RSS

Arsip Kategori: sajak

sajak sajak biasa

Jonggring Saloko mengamuk

ribuan mengalir
batu pasir bercampur air
penambang pasir pontang panting
berlarian mengejar angin
teriak teriak seperti ada maling
melihat bus truk tergoling

orang gila tak mampu berpaling

16 hari derita mati
sebelum yang dingin berubah panas
awan mengepul mencari mangsa mengejar para tetangga
lava berpijar di bebatuan

orang gila masih tersenyum
tak lihat mayat terbakar di semayaman

soka, 30 april 2010

Iklan
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 30 April 2010 in sajak

 

Tag: , ,

dalam temaram

dalam temaram. sepi. duniaku berputar

secepat duniamu

hadirmu membawakan haru untukku

yang kaupetik dari pucuk pucuk pinus

dan kini. aku terdiam

rinduku menyesak dalam duburmu

mengais sepi yang lama tak berperi

mimpiku aku dan kamu bersama

tapi kau bilang ingin sendiri, memanjat tebing terjal hasratmu

kembali kututup mulutku

hanya hembusan nafasmu

mencoba mengetuk jendela kamarku

“aku tak mau mengganggu tidurmu malam ini”

kembali kupejamkan mataku. masih sepi. malamku menggayut

dan rinduku mati disini

dalam temaram

dunia fana 5 hari setelah merdeka tahun 2008

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 22 September 2008 in sajak

 

Tag: , ,

indonesia dalam sebuah puisi sedih, sebuah pesimisme atau tanda kurang bersyukur

indonesia
seorang kawanku menulis puisi untukmu. untuk adamu
sebuah elegi kukira
kata katanya hanya kutahu dari mimpi
mengais sisa malam yang retak
membaur bersama kabut
hilang
punah. sirna

indonesia
kakiku tlah berpijak lama
mencari arti keibuan-mu
dalam seonggok daging daging mutilasi
atau darah tercecer bersama sisa onaniku malam tadi

aku dan kamu hanya berjalan mundur
mengingat kejayaan Majapahit dan Singasari
tak ikuti globalisasi
dalam sepak terjang si kulit bundar
dalam sebuah iklan minuman ringan bersoda, seorang gadis bertelanjang dada
atau ketika yang berseragam memakan sisa nasi kami… yang harus kami makan esok

ah, indonesia
dalam cintamu pun aku menangis
mati

bdg, 12 agustus 2008

ini adalah sebuah sajak yang saya tulis barusan saja yang idenya dari begitu banyaknya tulisan tentang indonesia yang hanya berisi tentang hal hal sedih yang saya baca akhir akhir ini. tentang adanya seorang pembunuh berantai yang memutilasi salah seorang korbannya. tentang sudah merosotnya moral para anak muda sekarang yang mempertontonkan auratnya, bahkan sepertinya para anak muda itu bangga dengannya. lihat saja iklan iklan di tv sekarang, tentu akan dengan mudah kita bisa melihat paha atau belahan dada para bintang iklan. dan kalau merasa perlu bisa dilihat juga acara acara infotainment yang sering menggosipkan ( atau sebenarnya kenyataan bukan gosip belaka) seorang selebritis yang terlihat bugil atau terlihat bagian tubuh yang tak seharusnya terlihat dalam sebuah video yang akan disebarluaskan lewat internet.

tentang para jaksa yang notabene adalah penegak hukum tertangkap karena mengkorupsi atau terlibat suap menyuap demi entah seberapa besar uang. tentang para wakil rakyat yang mengambil harta kita, rakyat jelata. wakil rakyat yang kita percaya membuat aturan untuk kita tapi malah membuat aturan yang menguntungkan dirinya saja.

kenapa? kenapa begitu mudah kita menulis tentang kebobrokan negeri ini? kenapa begitu mudah membuat puisi tentangnya? dan kenapa kita lebih terinspirasi membuat puisi ketika kita sedih melihat bangsa ini? apa kita memang harus selalu bersedih dengan keadaan negeri ini semakin hari? apa ini karena kita sebagai rakyat bangsa ini telah pesimis dengan bangsa ini? kita merasa bangsa ini tlah kehilangan segala kejayaannya di masa lalu, telah terlena dengan sejarah bangsa ini. soal ini sebenarnya saya tak begitu mengerti.

tandanya kita kurang bersyukur, kata salah seorang temanku. kita kurang bersyukur atas apa yang terjadi dengan bangsa ini, makanya kita gampang menulis tentang hal hal buruk di negeri ini. katanya sebenarnya masih banyak negara yang lebih hancur dari negeri ini. kita ini masih lumayan, makanya kita harus bersyukur, tapi kita juga tidak boleh terlena katanya juga, biar gak semakin parah negeri ini. yang terjadi sekarang haruslah disyukuri. yang terjadi sekarang adalah yang terbaik bagi negeri ini, terbaik untuk pembelajaran kita di kemudian hari. ah, yang ini pun saya tak begitu mengerti.

bdg, 12 agustus 2008

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22 September 2008 in sajak

 

Tag: , , ,