RSS

Arsip Tag: Ninja 250R

Oleh-oleh dari Jogja! Yang klasik dan yang Manteb!

Oke, beberapa waktu lalu saya ke Jogja dalam urusan pekerjaan. Namun, selain kerjaan, ada beberapa hal seputar kendaraan bermotor yang saya dapat, meskipun sebagian besar sampeyan mungkin sudah pada tahu. Berikut beberapa fotonya (salah setting kamera hape jadinya resolusinya kecil)

1.Di warung pecel SGPC

Morris, klasik.............jarang ngeliat

2. Di tempat mantan rumah mbah Maridjan

akibat wedus gembel, seonggok bekas Satria dan Supra

katanya emang ni ban asli waktu kena wedus gembel, masih utuh....Mantab!

3. Makan malem di Oemah Djowo

deretan motor lawas di Oemah Djowo

4. Test ride Kawasaki Ninja 250 milik mantan atasan (Narsis mode:on)

foto nampang doang, soalnya pas test ridenya gak kepikiran minta dipotoin

Larinya Mantab!

5. Oleh-oleh buat Jagoanku motor-motoran ma mobil-mobilan belum sempet difoto udah pada rusak……

Itu saja

NB: Kerjaan waktu di Jogja banyak, jadi cuma sempet maen hari sabtu  aja……..

Iklan
 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 21 Desember 2011 in goblog

 

Tag: , , , , , , ,

Menilik penjualan motor flagship, ndak kayak bebek!

Kalo bicara soal statistik penjualan, ya bukan saya ahlinya. So langsung liat saja di blognya pak edo.

Nah, soal penjualan motor sport 250cc, berikut statistik yang saya ambil dari tempat beliau

Nah kalo dilihat, penjualan motor2 250cc yang masing2 menjadi flagship pabrikannya (termasuk juga PCX) kok penjualannya bisa naik turun dengan drastis ya? beda dengan penjualan motor bebek yang kalopun naik atau turun bakal terjadi secara perlahan….

Nah, saya gak ingin berspekulasi apa alasan semua itu, tapi saya bertanya saja kepada sampeyan semua. Kira2 kenapa kok bisa penjualan motor2 premium bin flagship penjualannya bisa naik turun drastis begitu?

Nih untuk penjualan PCX:

Bagaimana menurut sampeyan?

Itu saja!

NB: ganang nanya kira2 flagshipnya Yamaha ma Suzuki apa ya?

 
12 Komentar

Ditulis oleh pada 19 Juni 2011 in otomotif

 

Tag: , , ,

GW250: Berapa sih idealnya berat motor?

Kabar dari China tentang GW250 ternyata selain diharepin beberapa orang, juga disayangkan oleh beberapa orang yang lain. Yang disayangkan ketika melihat spesifikasinya adalah berat ni mongtor yang mencapai 180kg, jauh lebih berat dari motor berkubikasi saya yang dijual di Indonesia (NInja 250 dan CBR250) yang beratnya hanya di kisaran 160kg-an. Nah ini, yang notabene naked bike bukannya biasanya lebih ringan, wong sama aja Ninja atau CBR dicopot fairingnya tho?

Menanggapi sikap yang menyayangkan tersebut, saya jadi berfikir, sebenarnya berapa sih berat motor yang ideal untuk orang Indonesia itu? Apa benar 180kg dianggap terlalu berat?

Saya mencoba mengkalkulasi beberapa berat motor sport yang dijual dipasaran, dan ini hasilnya:

Dari gambar di atas, terlihat bahwa motor paling berat hanya seberat 169kg (ninja 250). Jadi, jika orang yang sudah menganggap bahwa Ninja 250 itu sangat berat, maka GW250 dipastikan juga akan terasa sangat berat.Tapi benarkah demikian?

nah, ada satu cara untuk mengukur berat motor yang cocok untuk kita gunakan. kita bisa langsung saja membagi berat motor dengan berat rata-rata si pengendaranya untuk mengetahui rata-rata berat motor yang bisa diterima si pengendara. Misalkan rata2 penyemplak Ninja 250 berat badannya minimal adalah 84kg, maka bisa dibilang bahwa 1 orang bisa menahan motor hingga 2kali berat badannya(169kg/84kg).

Lalu, apa untuk motor lain juga berlaku?

Jika melihat berat motor bebek dan matic yang dikisarang 90 hingga 110kg, mak memang terlihat bahwa orang dengan berat badan dibawah 50kg pun mampu mengendalikan motornya dengan mudah, so bisa dianggap juga bahwa memang seseorang mampu mengendalikan motor dengan mudah di kisaran 2 kali berat badannya.

Jadi, melihat hitungan diatas, maka bisa dianggap bahwa penyemplak GW250 minimal ya berat badannya 90kg. Dan melihat kondisi saat ini, sepertinya di Indonesia sudah banyak orang dengan berat badan segitu, apalagi biasanya orang tsb sudah mapan, punya penghasilan sendirilah. So, sesuai dengan pasar ni mongtor, karena toh orang yang mo nyemplak GW250 harusnya sudah siap dengan harga yang akan ditawarkan.

Dan saya pun hanya bisa meringis, karena berat badan saya cuma 88kg dan saya harap bisa turun lagi, sedikit kurang dari hitungan. Tapi melihat pengalaman kemarin-kemarin, saya aja ngerasa berat waktu harus menegakkan Honda Tiger yang miring, padahal beratnya gak nyampe 140kg. So, apa dengan berat GW250, saya bakal mampu?

Namun, sepertinya saya tidak perlu kecewa, karena setelah membaca tulisan ini dan ini, saya mengambil kesimpulan bahwa berat motor yang dapat ditanggung seseorang tidak melulu tergantung berat badan pengendara, tapi lebih tergantung pada titik berat motor. Motor dengan titik berat rendah akan lebih menguntungkan di kemacetan karena akan terasa lebih ringan. Sedangkan motor dengan titik berat tinggi macam trail jelas akan susah dipake dikemacetan.

So, jika memang GW250 dirilis di Indonesia, maka perlu ditilik juga dimana titik berat motor tersebut. Jika cukup rendah bisa saja orang dengan berat badan 60kg pun akan dengan mudah mengendalikan ni mongtor, meskipun berat mongtornya 180kg.

Jadi, memang sudah seharusnya Suzuki memikirkan ini, dan saya yakin memang titik berat nih mongtor sudah dirancang sebagaimana hingga gampang dikendarai.

Ya, intinya semuanya sih tergantung titik berat motornya, makin rendah, makin lakulah nih mongtor kalo dijual di negeri ini, karena toh orang dengan berat kecilpun akan mampu menggunakannya. Jadi, meski sampeyan kecil, jangan kecil hati dulu lah, kita tunggu gimana nanti saja.

Dan bagi Suzuki, kapan nih GW250 bakal dipasarkan dinegeri ini?

Itu saja!

NB: Titik rendah harusnya juga berlaku untuk Next All New Tiger, soalnya Tiger sekarang rasanya terlalu berat.

 
39 Komentar

Ditulis oleh pada 3 Juni 2011 in motor, otomotif

 

Tag: , ,

CBR 250R: Konsumen dan Kawasaki harus berterimakasih pada Honda

Munculnya CBR 250R telah membuat dunia roda dua gempar, khusunya ditanah air, ada yang bersyukur, ada juga yang menyayangkan. Yang bersyukur tak perlu dibahas lagi, gak menarik lagi. So, kali ini saya ingin melihat dari sisi orang-orang yang menyayangkan. Beberapa hal yang disayangkan dari CBR 250R anatara lain:

  1. CBR 250R masih satu silinder, sedangkan pemain 250cc sebelumnya, Kawasaki Ninja 250R sudah dua silinder, so disayangkan tenaga CBR kalah jauh dari si Ninja, begitu juga top speednya. Hal ini dianggap kemunduran
  2. CBR 250R dianggap menyalahi DNA CBR sebelum-sebelumnya, entah dari segi apa saja saya kurang tahu karena tidak mengikuti perkembangan CBR
  3. Bentuk CBR 250R yang baru yang sport touring dianggap kurang mengarah pada keinginan konsumen, kurang menyerang Ninja yang lebih dulu bermain di sport murni, padahal sama-sama motor sport 250cc berfairing.
  4. dsb, entah apa lagi

Dan menurut saya, beberapa jawaban atas beberapa hal yang disayangkan dari diri si CBR 250R tersebut adalah:

  1. mesin dua satu silinder lebih murah ongkos produksinya, so CBR bisa dijual lebih murah dari Ninja, terbukti CBR non ABS dijual 39,9juta dibawah Ninja yang 46,5juta yang juga tanpa ABS kan?
  2. selain itu, selisih harga itu juga dikompensasi dengan berbagai teknologi canggih yang tentunya tidak semuanya ada di tubuh si Ninja
  3. soal DNA CBR, bukankah Honda sendiri yang menciptakan CBR, so sepertinya Honda tahu si CBR ini akan dibawa kemana. Orangtua bagaimanapun akan melakukan yang terbaik untuk anaknya.
  4. Honda itu sangat baik hati lho, sampai -sampai sebagai saingan di dunia roda dua, Honda tidak mau menyerang Kawasaki secara langsung lewat CBRnya untuk menyerang NInja, tapi mencari celah lain yang sedikit berbeda agar sebagai sesama pabrikan Jepang tetap bisa hidup rukun. Intinya ya nasionalisme lah… apalagi kondisi keuangan Kawasaki gak sebaik Honda, so biar sama-sama berkembang lah…
  5. Selain baik pada sesama Jepun , Honda juga baik pada konsumen karena Honda memberikan pilihan kepada konsumen, yang suka balapan dan top speed monggo pilih Ninja, yang suka torsi gedhe dan dipakai di kemacetan bisa milih CBR, milih CBR pun konsumen juga dikasih pilihan lagi, bagi yang masih belajar naik motor 250cc monggo pilih yang pake ABS saja, sedang yang sudah ngrasa bisa dan duitnya cekak yo monggo milih CBR non ABS saja. Apa ndak baik Honda coba?
  6. lan sakpiturute (dsb)

Lha kalo kondisinya kayak gini, dalam pasar roda dua tanah air, bukannya Kawasaki harus berterimakasih pada Honda, wong Kawasaki itu miskin kalo dibanding Honda tapi Honda masih pengen Kawasaki itu hidup, trus apa konsumen juga gak harus berterimakasih wong sekarang pilihan motor sport berfaring nambah je,..yang suka sport tulen touring kenceng (updated) monggo pilih Ninja, yang suka sport tapi juga dipake macet2an ya ambil CBR.

So, keluarnya CBR tak sepenuhnya ingin memberikan kompetitor pada Kawasaki, tapi ingin memberikan lebih banyak pilihan pada konsumen.

Intinya, hadirnya CBR 250R itu harus disyukuri, meski beli ataupun tidak. Kenapa? ya kalopun gak bersyukur yo gak bakal ada apa-apa tho dengan si CBR, so bersyukur saja sekalian ikut seneng buat yang pada bisa beli, ya tho?

Itu saja!

NB: ganang aja bersyukur, udah sempet nambal ban CBR katanya, tapi masih yang 150R lama…

 
46 Komentar

Ditulis oleh pada 10 Mei 2011 in goblog, motor

 

Tag: , , ,