RSS

Arsip Tag: Pulsar 135 LS

Pulsarian ngawur, efek penjualan laris Bajaj?

beberapa hari lalu ketika pulang kantor sendirian, hal yang sama dengan sebelumnya terjadi. Seseorang menyenggol spion saya sampai saya mau jatuh. Dari sebelah kiri.

Yang jadi masalah, kali ini yang nyenggol adalah seorang pengendara Pulsar 135, yang biasanya saya lihat cukup sopan. Lha kok waktu itu, habis nyenggol saya langsung ngacir aja, malah makin ngebut aja, padahal jelas-jelasa saya hampir jatuh. Untungnya gak jatuh jiuga sih.

menurut saya bodynya paling prporsional di antara keluarga Pulsar

Sebenernya pengen ngejar trus marah-marah, tapi saya tahu diri, meski MIchael lebih gede cc-nya, tapi Michael dah gak bisa lari. Apalagi secara penampakan, P135 yang barusan nyenggol itu masih baru.

Yang jadi pertanyaan saya kemudian, apa ini efek larisnya P135? sehingga pembelinya bukan lagi orang yang ngerti motor, tapi cuma penunggang-penunggang bebek yang pengen ganti motor sport?

Awal Bajaj di Indonesia, dengan harga P180 yang hampir sama dengan harga motor sport Jepang, pengendara P180 adalah orang-orang yang benar2 ngerti motor, tapi setelah harga diturunin dan harga P135 tak lebih mahal dari harga bebek, ya semua penunggang bebek jadi beli motor sport.

Efeknya? saya seperti menimpa saya itu.

Itu saja!

NB: sayangnya gak sempet nginget plat nomornya…..

 
27 Komentar

Ditulis oleh pada 29 November 2011 in goblog, motor

 

Tag: , ,

Bajaj korbankan para pembeli Pulsar 180 awal

Oke, mencoba menulis tentang pabrikan lagi, tapi kali ini pabrikan dari India yang lagi naik daun, yaitu Bajaj. Bajaj semula dikonotasikan negatif dengan angkutan umum roda tiga yang berisik suaranya, dan asep dari knalpotnya tebel pisan, namun persepsi itu berusaha diubah oleh pabrikan Bajaj dari India dengan mengenalkan pulsar pada Nopember 2006 dengan Pulsar 180, diikuti dengan kakak dan adiknya P200, P135 dan XCD 125 yang sekarang line upnya tinggal P180, P135 dan yang baru saja muncul P220.

Oke, yang ingin saya bahas tentunya terkait Pulsar 180 dimana saat peluncurannya harga ni mongtor mencapai 18 juta rupiah. Dan dengan performanya yang yahud, ternnyata pendatang baru ini lumayan laris manis juga, terbukti BAI sebagai ATPM mengeluarkan produk lainnya seperti disebutkan diatas.

Namun yang menjadi masalah adalah ketika BAI ingin membawa sang pemegang tahta tertinggi Bajaj, the fastest Indian P220, akhir tahun kemarin harga berbagai varian pulsar diturunkan. P180 diturunkan dari 18juta menjadi 15,9juta, P200 diturunkan dari 21 juta menjadi 18,9 juta hanya untuk kemudian didiscontinue, Pulsar 135 juga hanya dibanderol 14,7juta, sedang XCD 125 yang dibanderol 13,5juta sudah didiscontinue jauh2 hari sebelum P220 diluncurkan….

Yang perlu dijadikan pertimbangan tentu gimana nasib pembeli Pulsar 180 sebelum turun harga, apa ndak ngerasa beli produk yang overprice? Rasanya kalo saya jadi pembelinya gak bakal ikhlas, ada rasa menyesal di hati, ada rasa dikorbankan oleh BAI untuk bisa menguntungkan pembeli2 sesudah harga turun.

Soal pembeli P220 atau XCD 125 tentu gak akan ada masalah, wong pemiliknya malah jadi eksklusif sekarang karena motornya gak terlalu banyak di jalanan…

Kalo pembeli P180, masak 2 motor P180 jejeran beda tahun, yang tua dibelinya lebih mahal dari yang muda sih? masuk akalnya kan yang tua lebih murah dari yang muda, ya tho?

terus bagaimana dengan harga motor bekasnya? yang pasti anjlok dong, kalo tahun 2009 akhir harga seken p180 tahun 2007 masih di kisaran harga 13-14 jutaan, begitu ada penurunan harga motor baru dari BAI,pada 2010 harganya langsung anjlok dibawah 10juta. Lhadalah…ngalamat yang jual bakalan rugi dong…

Oke, soal itu sudah terjadi kemarin2, so para pembeli P180 awal pun gak kan terlalu mempersoalkan….

Namun, kenyataannya sampai sekarang, masalah sparepart ni mongtor gak kunjung selesai bin lancar, dalam arti gak kunjung mudah didapetkan. dimana-mana sparepart susah dicari,jadi para biker harus pinter2 untuk mencari sparepart motor lain buat ngakalin biar motor tetep yahud…

Apa karena motor ini daya tahannya dianggap luar biasa, pembelinya gak butuh sparepart gituh? hmmm…sepertinya BAI juga lagi mikir gimana mensiasati masalah ini.

contoh sparepart, gak tahu buat motor apaan...

sesuai tulisan dari motorplus, BAI mo bikin kerjasama bikin dealer khusus sparepart,biar mudah distribusinya katanya. namun, dari rencana itu ditulis oleh motorplus, sampai sekarang kelangkaan sparepart Pulsar 180, termasuk juga varian lain produk Bajaj belum terselesaikan. Dimana-mana masih susah nyarinya…

Jadi ngerasa terdzolimi saja, dah bia beli mongtornya, eh kalo mongtornya kenapa-napa dan butuh ganti sparepart, lha kok stok sparepartnya gak ada dan harus nungguin,,,hmmm…..

Soal distribusi, bukannya sebenarnya bisa dikirim langsung ke dealer2 tempat penjualan motornya ya? ngirimnya bisa barengan unit motornya ataupun dikirim sendiri. Yang perlu dilakuin hanyalah mengirim sparepart dalam jumlah yang lumayan banyak diambil dari prosentase penjualan motor per tahunnya, misalkan saja si dealer pernah menjual P180 tahun 2006 100 unit, 2007 200 unit, 2008 300 unit, 2009 400 unit, 2010 500 unit, maka pada 2011 dapat dijagain untuk satu jenis sparepart sebanyak  57 buah {misalkan prosentasenya sbb: (1% x 500) + (2% x 400) + (4% x 300) + (8% x 200) + (16% x 100)}. Intinya jumlah sparepart yang dikirim (berarti juga yang diimport) disesuaikan dengan jumlah motor terjual dengan prosentase tertentu yang menggambarkan kemungkinan rusaknya suatu komponen tertentu. Soal adanya force major macam kecelakaan itu kasus lain yang jika tidak tersedia sparepartnya ya disuruh sabarlah konsumennya namanya juga akibat kecelakaan, ya tho?

Jadi, rasanya buat pengguna P180 dan variannya untuk sementara memakai sparepart ya seadanya saja, yang penting sparepart ada, walo ngambil sparepart motor dari pabrikan lain…

Hmmmm. sepertinya itu saja.

NB: ganang mbengkel sendiri, soalnya gak punya duit kalo harus mbengkelin motornya di beres…

 
39 Komentar

Ditulis oleh pada 16 Mei 2011 in otomotif, Umum

 

Tag: , , , ,

Analisa Harga Motor Sport dari India (termasuk prediksi harga YZF R15)

Seiring makin banyaknya motor asal India, baik yang didatangkan oleh ATPM Jepang maupun yang datang dan mengembangkan merknya sendiri, saya jadi ingin mereka-reka pricing strategy yang diterapkan oleh ATPM-ATPM tersebut.

Analisa yang saya lakukan hanya berdasarkan konsep multiplikasi tanpa melihat unsur2 yang lebih detil, hanya sekedar membandingkan harga suatu unit motor sport yang dijual disini dan tentunya juga dijual disana.

Dalam hitung2an diatas bebrapa asumsi saya buat, diantaranya:

  1. Harga Unicorn Dazzler saya lihat dari sini, sedangkan yang lainnya dari sini
  2. Kurs rupiah-rupee saya ambil dari sini pada tanggal 24 April 2011
  3. Harga Indonesia adalah harga on the road Jakarta per 24 April 2011
  4. Cara masuk ke Indonesia untuk masing2 motor yang sudah jelas misalnya Pulsar series dan Apache
  5. Cara masuk ke Indonesia untuk yang lainnya saya asumsikan diproduksi dalam negeri dengan beberapa part diimport dari India, saya tulis sebagai Produksi/CKD. Hal ini semata karena ketidaktahuan saya apakah semua part diproduksi dalam negeri atau ada yang sebagian diimport, tapi pada dasarnya adalah diproduksi.
  6. Saya tidak memperhatikan cara masuk tersebut dalam hitungan, meskipun sebenarnya dengan masuk ke Indonesia dari India dengan CBU terkena Bea Masuk 20% (tariff MFN), CKD terkena  Bea Masuk 10% (tariff MFN), dan produksi dalam negeri terkena PPh Pasal 22 atas penjualan hasil produksi sebesar 0,45%. Semua ini dikesampingkan.
  7. gambar motor diambil dari berbagai sumber.

Langsung saja ya…

1. Honda New Mega Pro/CB Dazzler

Harga NMP di Indonesia berada jauh diatas harga CB Dazzler di India, padahal pada dasarnya motor ini adalah sama. Multiplikasinya mencapai 1,41 kali. Dari sini sebenarnya bisa dibilang kalo motor ini dijual terlalu mahal di Indonesia, atau bisa juga dijual terlalu murah di India.

Padahal kalo dilihat cara masuknya yang diproduksi sendiri dengan kemungkinan ada beberapa part saja yang diimpor dari India, seharusnya harganya bisa lebih murah dari pada yang didatangkan ke Indonesia dengan CBU ataupun CKD.

Hal ini terjadi mungkin karena brand Honda yang lebih dipercaya oleh konsumen di Indonesia, sehingga soal harga bisa ditentukan semaunya.

2. Pulsar series

Dalam kasus Pulsar Series dimana ketiga motor diatas didatangkan dengan CBU, tapi dijual dengan harga yang bisa dibilang murah mungkin karena sebagai pemain baru harus berusaha menancapkan kepercayaan konsumen dulu, ATPM Bajaj mencoba menjaring calon konsumen kelas dibawahnya agar membeli motor sport yang seharga dengan motor bebek dan matik. Apalagi jika melihat bahwa harga Pulsar series diawal kemunculannya cukup bisa dibilang mahal, namun kemudian diturunkan harganya untuk mencoba mencari pasar baru.

diimpor CBU, tapi masih murah, kenapa ya?

Pada awalnya Bajaj mungkin Cuma pengen jualan saja sehingga berusaha mencari untung cepat dan banyak dengan memakai harga mahal. Setelah produknya bisa diterima, maka ATPM Bajaj baru serius menggarap pasar Pulsar di Indonesia dengan menurunkan harga dan mendatangkan varian terbaiknya P220.

Dari hitungan diatas, sebenarnya dapat dilihat bahwa multiplikasi harga Pulsar 180 adalah yang paling kecil, sehingga bisa dibilang P180 lah yang bisa dibilang paling murah, mungkin jika dihitung dengan memasukkan unsur pajak, maka keuntungan atas motor ini di jual di Indonesia bisa lebih kecil dari keuntungan atas penjualan motor ini di negeri asalnya.

Dan atas Pulsar 135 LS sepertinya ATPM Bajaj ingin mendapat untung yang besar karena pada dasarnya motor inilah yang paling cocok dengan kondisi Indonesia khususnya Jabodetabek yang sering macet, sehingga diharpkan akan terjual dalam jumlah yang banyak.

3. TVS Apache

Pabrikan TVS sepertinya lebih realistis dalam bersaing dengan produk Jepang di Indonesia, bisa dilihat dari multiplikasinya dimana secara umum lebih rendah dari pabrikan Jepang tapi lebih tinggi dari Bajaj padahal TVS didatangkan secara CKD.

Namun, tentunya dengan harga yang ditetapkan di Indonesia sebesar tersebut keuntungan TVS sepertinya tidak terlalu besar, namun juga tidak terlalu kecil sehingga akan gulung tikar. Dengan dibangunnya pabrik perakitan di Indonesia berarti dengan keuntungan yang lebih kecil dari pabrikan Jepang saja, TVS mampu bertumbuh dan yakin akan mengembangkan pangsa pasarnya di Indonesia.

4. Yamaha FZ-16/Byson

Pada dasarnya hampir sama dengan NMP sebagai sesame pabrikan Jepang yang besar yang jualan baik di India maupun di Indonesia.Yang agak lucu adalah bahwa harga Byson disini lebih mahal daripada harga FZ 16 di India. Soal ini sepertinya Yamaha merasa bahwa desain Byson bisa lebih diterima oleh konsumen Indonseia daripada NMP. Meskipun pada kenyataannya jumlah penjualannya kalah dari NMP.

Atau mungkin juga karena Yamaha tak ingin menjual Byson dalam jumlah yang banyak, so dihargai mahal juga gak masalah, mungkin begitu pikirnya.

5. Yamaha YZF R15

Harga untuk motor ini belum jelas, karena bahkan YMKI sendiri belum memutuskan apakah akan mendatangkan motor ini atau tidak. YMKI masih menghitung-hitung besarnya kerugian akibat muncullnya Honda CBR 150R yang akan dirilis Juni ini dengan potensi keuntungan jika memang akan merilis R15 ini.

Kalopun jadi dirilis, tentu YMKI berharap akan mendapat keuntungan yang besar, mungkin jika dilihat dengan hitung2an diatas YMKI berharap bisa memakai multiplikasi Yamaha Byson yang sebesar 1,48 atau lebih besar. namun itu berarti harga R15 akan berkisar pada 29juta. Tentu ini akan menjadi polemic tersendiri, sehingga bagaimanapun jadi tidaknya motor ini dirilis akan sangat tergantung dari patokan harga yang dibuat Honda atas CBR150.

Jadi, jika CBR 150 dijual dibawah harga 29juta, maka saya yakin YMKI masih akan lama mengeluarkan R15, karena disatu sisi tidak mungkin YMKI memasang harga lebih mahal R15 lebih mahal dari CBR150 dan disisi lain kalo dijual dibawah harga 29juta keuntungan yang diperoleh akan lebih rendah daripada jualan Byson, so YMKI tentu akan lebih suka untuk memproduksi dan jualan Byson dong wong untungnya lebih gede.

Namun, meskipun begitu melihat itung2an diatas masih mungkin juga kalo R15 akan dijual diharga 23 hingga 29 juta, dibawah harga CBR 150 yang sesuai hitungan saya sebelumnya disini berkisar antara 25 hingga 30 juta.

Itu saja.

NB: ganang pikir YMKI lebih suka jualan V-ixion daripada R15, meskipun dasarnya sama tapi tetep saja beda kalo untungnya lebih besar V-ixion….

 
29 Komentar

Ditulis oleh pada 25 April 2011 in motor, otomotif, Umum

 

Tag: , , , , , , , , , ,

Komparasi Motor Sport dibawah 25 juta Bahgian 2

melanjutkan tulisan saya sebelumnya disini, saya akan kembali membandingkan bebrapa motor sport yang sempat saya lirik untuk menggantikan si Michael. Langsung saja, berikut ulasan saya:

4. TVS Apache 160 RTR

sebenarnya saya sudah lama tahu keberadaan motor ini, tapi karena baru sekali dua kali liat dijalan, jadi gak sempat memperhatikan. Saya baru tertarik dengan si Apache ini ketika kemarin liat-liat aja pas sudah timbul keinginan untuk ganti si Michael, itu hanya sekilas sampai melihat gambar-gambar freestyle di ni mongtor.

Tapi niatan untuk meminang ni mongtor tetap saja tidak ada, entah kenapa tapi yang jelas karna saya gak sempat niat ya gak saya omongkan ke istri. Ada cukup keraguan dihati jika memang ingin meminangnya. Oke, kulaitas saya percaya dengan tulisan-tulisan di internet. 3S ya jelas kalah dengan pabrikan Jepang, dan bahkan saya masih merasa kalo TVS masih kalah dengan Bajaj soal 3S meski pabriknya sudah ada disini.

Soal motornya sendiri, entah apa ada saja yang mengganjal, rasanya jika yang dipasarkan di Indonesia adalah yang 180 RTR-ABS mungkin lirikan saya pada ni montor akan mampu membuat saya menyampaikan ide ttg motor ni kepada istri.

5. Bajaj Pulsar Series

Untuk Bajaj Pulsar saya membaginya menjadi 3, yaitu Pulsar 180, 135 dan yang baru Pulsar 220.

a. Pulsar 180

Tertarik dengan motor ni karena harganya, tentunya setelah diturunkan menjadi 15,7 juta saja. Dengan kulaitas yang mumpuni harga segitu rasanya murah. Dan tentunya kualitasnya lebih baik dari si Michael, karena cc lebih besar, tenaga lebih besar, pokoknya nilainya lumayanlah.

Hanya sayangnya menurut bebrapa blog yang saya baca, motor ni lebih mengejar top speed, padahal saya gak terlalu butuh itu, saya lebih butuh motor yang gampang selap selip di kemacetan, yang tenaganya besar di bawah dan menengah, tak terlalu butuh diatas. Kalo soal top speed, paling saya make juga maksimal 100 kpj, ngapain juga nyari motor yang banter…

b. Pulsar 135 LS

Katanya, kalo nyari motor buat selap selip ya motor ini, mantep tenaganya dibawah, gampanglah ditekuk kiri kanan. Tapi begitu liat, lha kok kecil banget yak, dari belakang juga gak begitu kentara kalo motor laki. Belum sempet nanya aja, istri udah bilang gak suka banget, padahal cuman ngeliat di jalan. gak sempet nanya kenapa.

c. Pulsar 220

Nah, montor yang baru bebrapa bulan nongol ini cukup membuat saya sangat tertarik, meskipun ada juga yang kurang saya sukai. Double disc brake, ban lumayan lebar, ccnya gedhe, teknologi dts-i, gak pake starter manual, top speed tinggi (gak terlalu penting kalo ini), tampilan gedhe, handling katanya nyaman, dan harganya bisa dibilang murah, pokoke dah masuk kategori jos lah…

Yang krangnya adalah 3S masih lumayan jauh (tapi gakpapalah), half fairingnya gak suka, dan istri gak suka suara knalpot nya, termasuk semua seri bajaj, kurang gahar katanya….. bingung istri mo nyari motor apaan sih buat saya….

Oya, katanya(belum nyobain, karna gak tahu dealer terdekat di sekitar rumah sekitar Bintaro sektor 5) joknya tinggi banget….meski saya sudah lumayan tinggi, 173 kok ya tetep minder ya,…. Dan satu lagi, beratnya itu lho, mpe 150kg, kok makin minder aja, apalagi katanya tenaganya lebih diatas, jadi kalo macet kayaknya bakal kecapekan sendiri, lha wong bawa Tiger yang beratnya 136 aja udah kecapekan kalo macet je….

Oke, karena baru saja mbahas Tiger sekilas, selanjutnya saya akan bahas deh….tapi di bahgian selanjutnya… alias bersambung dulu….

Tar saya jadi beli yang mana, ya belum jelas, belum diputuskan,….buktinya…..sampai sekarang belum beli tuh… malah gara2 bikin pompa air baru ngalamat gak jadi beli motor, lha wong anggarannya berkurang lumayan besar je….

NB: ganang gak pernah nganggarin buat apa-apa, yang ada ya dipake, …………….. pantesan gitu-gitu saja hidupnya

 
41 Komentar

Ditulis oleh pada 21 April 2011 in goblog, motor, Umum

 

Tag: , , , , , , ,