RSS

Arsip Tag: harga bahan bakar

Perubahan Tarif Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB)

Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2011 menyebutkan bahwa Dalam rangka stabilisasi harga bahan bakar kendaraan bermotor sesuai Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, tarif Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBB-KB) yang sudah ditetapkan dalam Peraturan Daerah diubah menjadi sebesar 5% (lima persen).

Ketentuan ini berlaku khusus untuk BBM bersubsidi alias Premium.

Dan apa artinya?

tentunya jelas, dengan PP ini, harga Premium di beberapa daerah sempat naik gara-gara Pemda-nya nerapin PBBKB diatas 5%, so harus diturunin kembali lah…

Yang harusnya 4500 ya balik ke 4500 lah!

Bagi Pemda yang Perdanya dah ngatur PBBKB diatas 5% ya harus diralat lagi khusus untuk BBM bersubsidi…

Hmmmm…kira-kira sebarapa besar ya penurunan penerimaan daerah akibat PP ini?

Itu saja!

NB: kata ganang, PP itu mah gak ngaruh, wong di pelosok sono harga Premium diatas harga Pertamax je….

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 26 Juli 2011 in otomotif, pajak

 

Tag: , ,

Mobil dan motor berkompresi rendah, mubadzir gak make Pertamax?

Fatwa MUI tentang haramnya orang mampu beli premium membuat saya sedikit berfikir tentang motor dan mobil yang berkompresi rendah (maksimal (9,0:1) yang mana make Premium aja udah cukup…

Maka saya mau buat polling gimana para pengendara mobil dan motor berkompresi rendah itu dalam menyikapi fatwa tersebut…

 

Itu saja!

NB: ganang yang jelas2 buat makan aja sulit belinya Shell Super je buat HSX 125-nya…

 

 
11 Komentar

Ditulis oleh pada 30 Juni 2011 in goblog, Umum

 

Tag: , , ,

3 Premium + 4 Pertamax Plus = 7 Pertamax?

mengikuti harga BBM tanpa subsidi rasanya akhir2 ini akan mencekik para bikers, so untuk mengakali dan mensiasatinya beberapa hal dapat dilakukan. ada yang langsung mengganti Bahan Bakar motornya dengan bahan bakar bersubsidi yang harganya jauh dibawahnya atau malah dengan mengurangi frekuensi dan jarak menggunakan kendaraan.

Tapi sebenarnya ada satu alternatif lain yang bisa dilakukan para pengendara kendaraan bermotor, yaitu dengan mengoplos BBM bersubsidi (premium) dengan BBM yang tidak bersubsisi (pertamax atau pertamax plus). Meskipun belum diketahui apakah dengan mencampur kedua jenis BBM tersebut dalam tangki bensin, senyawa keduanya akan bersatu, namun pantas dicoba juga.

Satu yang sering dijadikan dasar orang dalam mengoplos BBM bersubsidi dan BBM nonsubsidi, yaitu untuk mengoplos BBM dari 1 macam produsen, karena ditakutkan senyawa BBM bersubsidi dengan BBM non subsidi tidak akan sama dalam ramuan komponen kimianya. dan karena BBM bersubsidi yang ada di Indonesia cuma dijual oleh Pertamina dalam bentuk premium, maka mengoplosnya pun dengan produk Pertamina lain yang non-subsidi, yaitu Pertamax atau Pertamax plus. Meskipun sepertinya belum ada riset juga kalo Premium dioplos dengan produk dari SPBU lain misalnya Shell, Petronas ataupun Total, akankah mencampur atau tidak….

Untuk kendaraan dengan kompresi tinggi yang mengharuskannya memakai BBM beroktan 92 (dalam hal ini Pertamax) terdapat satu cara mensiasatinya, yaitu dengan mengoplos premium dengan pertamax plus dengan perbandingan tertentu. Dari perhitungan yang saya buat, berikut hasilnya

Dari itung2an diatas, dapat terlihat jika membeli langsung BBM beroktan 92 (Pertamax), dengan asumsi harga sekarang Rp9.250, maka untuk mendapatkan 7 liter seorang biker perlu membayar sebesar Rp.64,750. Sedangkan dengan mengoplos Pertamax plus dengan Premium diperoleh BBM beroktan 92 seharga Rp51.700 saja. Harga itu diperoleh dengan membeli 3 liter premium dan 4 liter Pertamax plus, atau Rp13500 premium dan Rp38.200 pertamax plus. Ada selisih Rp13.050 rupiah yang bisa dibilang lumayanlah, bisa dapet makan siang satu kali dikantor, hehehe….

Namun, mengisi kendaraan dengan 7liter BBM hanya dapat dilakukan untuk motor2 (mobil tentunya bisa) yang kapasitas tengki bensinnya mencapai 7 liter, dan sepertinya ini baru dipunyai oleh motor2 sport. So, untuk motor2 yang kapasitas tengki bensinnya kecil, saya juga telah buat perbandingannya sbb:

Cara membacanya:

Untuk tanki motor yang maksimalnya mampu menampung 5liter BBM, alternatif pertama dapat dilakukan, yaitu dengan membeli 2 liter premium  senilai Rp9.000 dan 2,67 liter pertamax plus senilai Rp.25.467, maka akan diperoleh BBM beroktan 92 sebanyak 4,67 lter. yah, kenyataan di lapangan bisa dibulatkanlah 9 ribu premium dan 25 ribu pertamax plus, gitu saja. so lumayanlah daripada ngisi pertamax semua, hitung aja sendiri berapa duit yang harus dikeluarkan untuk bisa beli 4,67 liter pertamax, tentu bakalan ada selisih bukan?

Untuk yang tengki bensinnya lebih kecil, misalnya cuma mampu menampung 3,8 liter, saya tuliskan 2 alternatif. yaitu dengan 7ribu premium dan 20ribu pertamax plus atau 5 ribu premium dan 14ribu pertmax plus.

Lha terus bagaimana buktiin kalo BBM dalem tengki bakal nyampur?

Gampang bro…

Lebih mudahnya ya diterapkan dulu pada motor berkompresi tinggi, jika hasil campurannya bikin motor jadi brebet bin ndut-ndutan ya berarti ntu BBM gak nyampur, kalo tetep lancar jaya ya bisa diartikan oktannya bener tercapai 92 alias bisa nyampur.

Untuk menghindari mesin motor make pertamax plus lebih dulu, isiin aja premiumnya lebih dulu biar si premium ada di bagian bawah dan tercampur begitu pertamax plus dimasukkan. Atau ada yang mau ngocok-ocok tengki bensinnya? ya monggo kalo mau sih…

Intinya, untuk mendapatkan BBM beroktan 92 diperlukan premium dan pertamax plus dengan perbandingan 3 dibanding 4, bisa disesuaikan dengan harga berapapun.

Itu saja!

NB: kalo jual BBM eceran oplosan dengan perbandingan 3:4 seperti itungan diatas kira2 bakal laku gak ya?, tanya ganang….

 
20 Komentar

Ditulis oleh pada 15 Mei 2011 in otomotif, Umum

 

Tag: , , , , ,

Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB)

Oke, salah satu pajak daerah yang juga secara tidak langsung berpengaruh bagi apara biker adalah Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB), karena pajak daerah ini dikenakan atas bahan bakar. Jadi, biker sebagai pengguna motor pasti terpengaruh, apalagi kalo motornya yang boros bahan bakar.

Sesuai dengan UU No.28 tahun 2009 tentang PDRD, Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor adalah pajak atas penggunaan bahan bakar kendaraan bermotor. dan yang dimaksud dengan Bahan Bakar Kendaraan Bermotor sesuai UU adalah semua jenis bahan bakar cair atau gas yang digunakan untuk kendaraan bermotor. Jadi, bukan semata BBM yang dibeli dari SPBU, tapi juga BBG dan sejenisnya yang dibeli dari SPBG.

Subjek Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor adalah konsumen Bahan Bakar Kendaraan Bermotor. Pemungutan PBBKB dilakukan oleh penyedia melalui SPBU/SPBG terhadap orang pribadi atau Badan yang menggunakan Bahan Bakar Kendaraan Bermotor. Penyedia Bahan Bakar disini maksudnya adalah produsen dan/atau importir Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, baik untuk dijual maupun untuk digunakan sendiri. So, Pertamina, Shell, Petronas harus mungut PBBKB dan nyetorin hasilnya ke rekening Dispenda provinsi karena PBBKB kan pajaknya provinsi.

OKe, untuk ngitung PBBKB, perlu diketahui dulu Dasar pengenaan Pajak (DPP)-nya. DPP PBBKB adalah Nilai Jual Bahan Bakar Kendaraan Bermotor sebelum dikenakan Pajak Pertambahan Nilai. Dalam kenyataannya, nilai yang kita bayar terhadap BBM yang kita pakai di motor sudah termasuk PBBKB maupun PPN. Jadi, itung2anna biar Pertamina dkk yang nguruslah…

Yang perlu kita tahu adalah tentang besaran tarif PBBKB, yang dalam UU ditetapkan paling tinggi sebesar 10% (sepuluh persen). Dalam kenyataannya yang terjadi selama ini, PBBKB serempak ditetapkan sebesar 5% sesuai UU lama. So, dengan berlakunya UU baru ini, setiap daerah bisa menentukan tarif yang berbeda, sesuai kemampuan Pemprov masing2, yang pengan dapet pajak gedhe ya tarifnya dinaikin.

Namun, tahun 2011 ini Pemerintah Pusat pingin supaya tarifnya tetep 5% biar masyarakat gak kaget, kok harga BBM naik terus padahal harga minyak dunia aja sudah naik, apalagi kalo ditambah naiknya PBBKB ini. Dan kenyataannya beberapa daerah membandel, dalam Peraturan Daerahnya ada beberapa provinsi menaikkan tarif pajak ini. Untungnya, selama Pemerintah Pusat belum mengijinkan ya belum bisa berlaku Peraturan Daerah tersebut. Namun, biker di beberapa daerah yang tarif PBBKBnya dah naik sesuai Perda, siap2 ajalah kalo tahun depan atau malah beberapa bulan kedepan harga BBmnya lebih mahal dari daerah lain.

Khusus tarif Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor untuk bahan bakar kendaraan umum dapat ditetapkan paling sedikit 50% (lima puluh persen) lebih rendah dari tarif Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor untuk kendaraan pribadi. Hal ini untuk membantu masyarakat kurang mampu yang masih naik angkutan umum.

Oya, alasan Pemerintah Pusat mengubah tarif PBBKB yang sudah ditetapkan dalam Peraturan Daerah antara lain adalah”
a.     terjadi kenaikan harga minyak dunia melebihi 130% (seratus tiga puluh persen) dari asumsi
harga minyak dunia yang ditetapkan dalam Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara tahun berjalan; atau
b.     diperlukan stabilisasi harga bahan bakar minyak untuk jangka waktu paling lama 3 (tiga) tahun
sejak ditetapkannya Undang-Undang ini.

Nah, karena tahun ini dianggap kenaikan harga minyak dunia lebih dari 130%, maka Pemerintah menetapkan besarnya tarif PBBKB sebesar 5%, Sayangnya, hal ini baru disampaikan secara lisan saja oleh Menko Perekomian, belum ada Peraturan Presidennya, padahal ketetapan tersebut harusnya pake Peraturan Presiden lho…. Semoga Pemerintah Provinsi tetep dengerin kata2 Menteri

Oke, intinya waspada saja, jangan keburu2 demo kalo harga BBM naik, karena bisa saja itu sudah diatur di Peraturan daerah provinsi sampeyan. Dan sebagai info saja beberapa daerah dengan Perdanya memang sudah menaikkan tarif PBBKB ini menjadi 7,5% hingga 10%.

So, sebagai konsumen, ya hanya bisa menerima saja…

Itu saja.

NB: ganang gak make BBM kok, wong kemana2 masih ngayuh sepeda je,,,biar sehat katanya.

 
20 Komentar

Ditulis oleh pada 3 Mei 2011 in otomotif, pajak

 

Tag: , , , , , , ,