RSS

Arsip Tag: pegawai pajak

Susahnya menjadi bagian dari Pemerintah

Pada suatu malam ketika sedang bakar-bakar jagung,

” susah gak sih kang jadi PNS itu? ” tanya pak Nasy sambil mengolesi jagung dengan mentega yang sudah dicampur saos

” apa dulu yang ditanyakan, pak? kerjaannya atau gajinya atau bosnya?”

” ya bos ya kerjaannya, kalo gaji mah semua orang juga tahu, wong setiap tahun diumumin gitu lho! ”

” bosnya ya baik aja, kalo kerjaan ya kalo lagi ada kerjaan ya dikerjain, kalo lagi gak ada ya nganggur. Tapi kalo lagi ada kerjaan ya bisa sampai lembur dan nginep juga, dan sayangnya gak ada tu uang lembur dibayarin. emang ada aturannya, uang lembur 6.500 rupiah per jam, emang kecil dan gak pernah dibayarin. Yah, paling mikir sendiri sebagai kompenasailah wong kadang juga gak ada kerjaan.”

” terus, kerjaannya tu apa ndak terasa mengingkari hati nurani, gitu?

maksudnya pak?

ya, gini. kan sering tuh Pemerintah di protes, gak bisa gini, gak bisa gitu. padahal kan sampeyan itu orang pinter, mosok sih gak bisa menyelesaikan masalah gitu?

kalo masalah itu sih, ya ngerasa gitu juga. tapi ya mo gimana. jadi PNS tu harus manut birokrasi je pak. semua masalah tu tergantung atasane. kalo atasan bilang gini ya jalan, kalo bnilang jangan gini yo gak bisa jalan. mo jadi pembaharu? gak punya kedudukan dan gak ada yang ndukung ya ompong, sekedar bisa omong doang.

terus?

Ya kayak masalah macet aja pak. Nyelesaiinnya tu sebenare gampang, banyak banget orang pinter di Kementerian Perhubungan, di Pemprov DKI juga banyak, tapi kalo pimpinannya gak mau nyelesaiin ya gimana coba? Opo arep ngajak gelut bose? malah makan gaji buta nanti pak, wong gak dipecat tapi tetep digaji padahal dah gak dikasih kerjaan je. Keluarga saya kan jadi gak berkah pak. Ya saya sih bisanya ya ngerjain kerjaan yang ada, disuruh ini itu sama bos ya dikerjain asal masih gak ngelanggar ajaran agama.

Oya, emang Pemerintah tu gak punya rencana jangka panjang po? kok rasa-rasanya semua kebijakan cuma reaktif gitu?

O ada pak! Rencananya sih banyak pak, bisa A sampai Z. Wacana sih banyak banget pak, ya ini sih di tempat kerja saya. Review Peraturan ini, peraturan itu, trus yang masalah gini gimana ngaturnya. udah banyak pak.

lha terus kok pada gak jalan?

Yang mana nih maksudnya? ngatasi kemacetan jakarta apa kerjaan saya? Tapi saya rasa sih sama aja, semuanya kembali masalah keinginan bos dan dana. Bos gak mau, walopun saya bikin rancangan aturan gimana pun ya gak bakal disetujui. Apalagi masalah ngatasi kemacetan, kalo dananya gak berlebih ya jelas gak jalan lah.

lha kok nungguin dana berlebih ki gimana maksudnya?

Nah, soal ini saya gak mau suudzon pak. Tapi gini, untuk ngatasi masalah, misalnya kemacetan negri antahberantah dah diputusin beli Busway 1000 unit, masing-masing harganya 1 miliar. Nah untuk ngejalanin rencana ini tu gak cukup dana 1 triliun (1000 x 1 miliar), harus lebih. kenapa? ya untuk sampai pada realisasi beli 1000 unit tu kan gak bisa langsung jreng ngeluarin duit 1 triliun buat beli. Segala sesuatu ada birokrasinya, perlu pembentukan penangungjawab dan bahkan kadang tim yang jelas ada honornya, terus segala koordinasi dengan instansi terkait dan operatornya nanti juga pasti ngeluarin duit, rapat-rapat kan ya lucu kalo gak ada snack atau makan siangnya, terus biaya pemesanan, biaya angkutnya, tetek bengek dana buat pengetesan kualitas apa sesuai dengan pesanan, kalo gak cocok kan ada biaya lagi, biaya pengurusan orang yang harus bolak-balik dari supplier. Yah, pokoknya banyaklah…

gitu ya? gak ngerti saya kang! dimakan sajalah jagungnya, dah mateng semua tuh…

NB: ketika salah seorang teman di kantor gak mau mengambil uang perjalanan dinasnya kok malah diketawain ya sama teman-teman? padahal dia gak mau ngambil karena alasan dia gak ngeluarin uang sebesar itu untuk perjalanan dinasnya, dan toh itu juga sudah dia ikhlaskan demi negara, yang penting bisa bekerja dengan baik, gitu katanya.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 27 November 2011 in cerita, goblog, Umum

 

Tag: , ,

Dulu ngeluh, sekarang yang bikin! serta Piaggio Zip dan New Scorpio Z

Oke, dua judul yang saya sambung diatas sebenarnya tidak salaing berhubungan, tapi ya karna lagi pengen nulis begini ya ditulislah…

Yang pertama tentang pekerjaan. Dulu, ketika sedang di kantor atau di kampus, saya selalu mengeluhkan rumit dan ruwetnya peraturan perpajakan, dan sekarang saya pun menjadi bagian dari para pembuat peraturan pajak. Yup, mulai senin kemarin saya definitif berkantor di Direktorat Perpajakan Satu, dan ditempatkan di Subdirektorat Peraturan Ketentuan Umum dan Tata Perpajakan dan Penagihan Pajak dengan Surat Paksa.

Pyuh…mungkin ini gara-gara saya sering mengeluhkan aturan hingga akhirnya ya kena tulah gitu lah….

Dan kasus ini ternyata bukan cuma menimpa saya, salah seorang kawan saya, sebut saja Prima(bukan nama yang tidak sebenarnya) yang dulu hingga hari kamis kemarin masih sering mengeluhkan kinerja salah satu direktorat, dia pun kena tulah hingga akhirnya hari selasa kemarin(dia baru masuk selasa karna urusan di kantor lama) dia harus masuk menjadi bagian dari direktorat tersebut…dan kami(saya dan teman-teman) hanya bisa mentertawakannya dan menunggu janjinya untuk memperbaiki kinerja direktorat tersebut.

PRIMA....

Oke, selanjutnya tentang Piaggio Zip. Sore ini pas pulang kantor, say beserta istri yang sudah masuk wilayah bintaro melihat seorang ibu sedang berkendara di depan saya dengan sebuah skutik berwarna kuning ….yang body belakangnya bulet banget terlihat lucu. awalnya saya tidak mengetahui motor apa gerangan, tetapi begitu saya menanyakannya pada istri saya, jawabnya adalah bahwa motor itu adalah Piaggio, dan saya pun teringat dengan Piaggio Zip……dan ternyata benar. Ini dia…

ternyata gendut euy diliat dari blakang....

Itu saja!

istri saya tertarik New Scorpio Z, tetapi begitu melihat yang warna merah tadi sore, dia ngerasa kok kurang bagus, warna merahnya jelek katanya, dan saya hanya bilang kalo yang item lebih manteb….

terlihat ramping dan warnanya tidak disukai istri....

NB: Ganang udah ngitung-ngitung harga CBR 150R, kalo CBU harganya 30,9 juta, sedang kalo CKD bisa 25,9 juta. Ngitungnya pake dasar itungan harga CBR 250R dan itung-itungan pajaknya….mumet bikinnya katanya…

 
20 Komentar

Ditulis oleh pada 13 April 2011 in motor, pajak, Umum

 

Tag: , , , , , ,

Menjadi PNS benarkah masa depan yang cerah?

Seorang bijak mengatakan bahwa Masa depan yang cerah adalah masa depan yang penuh pilihan. Sampeyan mempunyai masa depan yang cerah jika dalam setiap langkah yang sampeyan tempuh dan jalani banyak pilihan yang dapat diambil, dan tentunya pilihan-pilihan itu adalah pilihan yang baik dan menguntungkan. Pilihan-pilihan ini bukanlah pilihan yang pasti atau statis, akan tetapi pilihan yang fleksibel, dinamis tergantung besarnya usaha yang tidak menghalangi kreatifitas.

Dari pernyataan orang bijak ini(menurut saya tentunya) saya jadi bertanya-tanya apakah masa depan lulusan STAN yang bisa dikatakan hampir pasti menjadi PNS adalah masa depan yang cerah? seperti kita ketahui bahwa ketika masuk (diterima sebagai mahasiswa) STAN, kita harus menandatangani kesediaan untuk diangkat sebagai PNS. dan mungkin begitu juga dengan PTK-PTK yang lain.

Lalu bagaimana dengan anggapan masyarakat bahwa menjadi PNS adalah suatu jaminan bisa bertahan hidup (sederhana?). Hal ini bisa dilihat dari banyaknya masyarakat yang mengikuti ujian dalam rangka penerimaan PNS, dan  banyak yang sampai bersedia membayar sejumlah uang(yang tidak sedikit, menurut ukuran saya) hanya untuk menjadi PNS dan bahkan beberapa diantaranya kena tipu dan yang lainnya tetap tidak mau belajar dari pengalaman si tertipu.

Oke, memang benar bahwa menjadi PNS berarti ada jaminan gaji(selama gak melanggar kode etik dan aturan disiplin) dan jaminan pensiun saat tua nanti, tetapi menjadi PNS berarti juga tidak adanya pilihan pekerjaan. sebagai contoh, kawan saya sebut saja si A lulusan S-1 hanya bekerja sebagai sopir karena memang cuma itu pekerjaan yang ada di bagian dia, atau kawan saya yang lain sebut saja si B yang lulusan s-1 juga tetapi jadi tukang fotokopi karena katanya gak ada yang lain yang lebih tua yang mau mengerjakannya. atau kasus Jack Lord sendiri(yang gak tahu bisa dibrowse di google) yang lulusan S-1 tapi cuma jadi tukang pel. selama tetap memilih jadi PNS, memang itulah kerjaan yang diberikan padanya, ya mau gimana lagi. mau milih yang lain, ya gak bisa karena kepentok birokrasi, apalagi bagi PNS yang punya masalah dengan atasan(bagian kepegawaiannya) ya ngalamat dapet kerjaan gak jelas terus.

Soal penempatan kerja pun, PNS gak bisa milih, apalagi di Kementerian yang gemuk, kayak kementerian keuangan yang unitnya ada hampir di setiap kabupaten di Indonesia, ya harus siap ditempatkan dimana saja. Saya sendiri yang ada di DJP hanya bisa mengajukan permohonan tempat penempatan tanpa ada kepastian (jangankan kepastian, janji aja gak ada), padahal saya ngajuin permohonan kan biar deket keluarga, sesuai alamat rumah dan tempat kerja istri. Yang anaknya sudah gedhe tentu lebih pusing lagi.

Jam kerja PNS juga tetap, gak bisa milih ndiri. dan ini bisa jadi masalah bagi orang-orang yang cuma kerja kalo lagi mood saja, so dia bakalan kelabakan.

Yang gak mau kerja, dibiarkan saja. Yup, sudah jadi rahasia umum bahwa PNS yang rajin akan banyak kerjaan, dan PNS yang malas dapat sedikit kerjaan atau malah nganggur terus. Dan tentunya jika golongan dan masa kerja sama, gajinya juga akan sama aja.

Berdasarkan apa yang saya tulis diatas, dan pernyataan orang bijak tersebut bahwa Masa depan yang cerah adalah masa depan yang penuh pilihan, masihkah PNS dianggap sebagai masa depan yang cerah? Karena menjadi PNS berarti hilangnya berbagai pilihan hidup dan penghasilan. Masihkah PNS menjadi buruan orang-orang tua yang sedang mencari menantu?

Untuk dua pertanyaan diatas saya yakin jawabannya masih, minimal untuk 10 hingga 20 tahun ke depan, dan akan semakin lama jika kondisi bangsa ini tetap seperti sekarang ini tak ada perkembangan pendidikan yang berarti. Soal pendidikan di negeri ini saya masih belum tahu mau dibawa kemana, karena sepertinya belum jelas arahnya….

sekian. itu saja!

pondokaren, 6 juni 2010

nb: ganang gak pingin jadi PNS, “mending jualan kaos oblong saja,” katanya. Ya iyalah, wong lulus SD saja enggak.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Juni 2010 in goblog, pajak, Umum

 

Tag: , , , ,

Benarkah remunerasi Depkeu dari utang Bank Dunia?

Sampeyan mungkin sering mendengar bahwa remunerasi yang diterima PNS, khususnya PNS Kemenkeu, BPK dan MA adalah berasal dari hutang kepada Bank Dunia. Bahkan seorang angghota Badan Anggaran DPR pun mengatakan demikian. tapi benarkah demikian? apa benar sistem keuangan di Indonesia memperbolehkan hutang/pinjaman untuk bayar gaji pegawai?

Dari sini, reformasi yang dilakukan Depertemen/Kementerian keuangan disalahkan, padahal mereka menyalahkan Kemenkeu tanpa dasar pengetahuan, karena sejatinya reformasi birokrasi di Depkeu bukan dimulai pada 2007, tetapi sejak 2002. begini ceritanya….

Sebelum tahun 2000 DJP telah mencanangkan pelayanan dan pengawasan secara khusus terhadap pemenuhan kewajiban perpajakan bagi 100 pembayar pajak terbesar di setiap KPP, dan sejak tahun 2001 Direktur Jenderal Pajak telah menginstruksikan kepada seluruh jajaran kantor unit vertikal DJP untuk menguasai permasalahan Wajib Pajak yang diadministrasikannya. Program ini dikenal dengan nama Knowing Your Taxpayers yang merupakan salah satu program cetak biru (blue print) DJP. Dalam rangka mensukseskan program pengawasan 100 Wajib Pajak terbesar dan Knowing Your Taxpayers tersebut, pimpinan DJP menginstruksikan untuk melakukan pelayanan dan pengawasan secara intensif terhadap 100 Wajib Pajak terbesar di masing-masing KPP. Konsep ini merupakan cikal bakal munculnya fungsi Account Representative di KPP Wajib Pajak Besar yang berdiri pada tahun 2002.

Maka sejak 27 Februari 2002 dibentuklah Kanwil XIX DJP Wajib Pajak Besar berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 65/KMK.01/2002 tanggal 27 Pebruari 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Wajib Pajak Besar dan Kantor Pelayanan Pajak Wajib Pajak Besar. Kemudian berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 587/KMK.01/2003 tanggal 31 Desember 2003 Kanwil XIX DJP Wajib Pajak Besar diubah menjadi Kanwil DJP Wajib Pajak Besar.
Adapun tujuan dari pembentukan Kanwil DJP Wajib Pajak Besar adalah :

  1. modernisasi administrasi perpajakan
  2. meningkatkan pelayanan
  3. meningkatkan pengawasan secara individual
  4. meningkatkan citra DJP
  5. mencegah penyalahgunaan wewenang

Konsep pembentukan Kanwil dan KPP Wajib Pajak Besar adalah mengkonsentrasikan sejumlah Wajib Pajak besar dengan cara pelayanan dan pengawasan modern dalam suatu wadah yang terkendali (controlled environment). Ciri-ciri:

  1. Organisasi Kanwil dan KPP Wajib Pajak Besar disusun berdasarkan fungsi, yang meliputi fungsi penyuluhan, pelayanan, pengawasan, pemeriksaan, dan penagihan;
  2. Seorang staf DJP (account representative) akan bertanggungjawab melayani dan mengawasi seluruh hak dan kewajiban perpajakan Wajib Pajak tertentu sehingga Wajib Pajak akan mendapat kemudahan pemenuhan hak dan kewajiban perpajakannya;
  3. Fungsi keberatan dan penyidikan Wajib Pajak berada di Kanwil DJP Wajib Pajak Besar sementara fungsi penyuluhan, pelayanan, pengawasan, pemeriksaan dan penagihan Wajib Pajak berada di KPP Wajib Pajak Besar.

Untuk memberikan pelayanan dan pengawasan yang lebih baik, DJP memerlukan dukungan teknologi informasi yang memadai. Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi dan organisasi DJP, Sistem Informasi Perpajakan (SIP), yang digunakan sejak tahun 1994, sudah tidak memadai untuk melayani dan mengawasi Wajib Pajak secara menyeluruh. Oleh karena itu dalam pembentukan Kanwil dan KPP WP Besar pada tahun 2002, SIP dikembangkan menjadi Sistem Administrasi Perpajakan Terpadu (SAPT) yang berbasis struktur organisasi berdasarkan fungsi.

Dengan dinilai berhasilnya reformasi birokrasi dengan sistem LTO (large tax office) tersebut maka departemen keuangan ingin meningkatkan reformasi birokrasi ke seluruh unit di Depkeu, dengan melihat keberhasilan Kanwil dan KPP Wajib Pajak Besar. sistem itu akan diduplikasi untuk seluruh unit di Indonesia. dan dimulailah reformasi birokrasi menyeluruh sejak 2007.

Jadi bisa dianggap pembentukan Kanwil dan KPP Wajib Pajak Besar (LTO=Large Tax Office) adalah sebagai Percontohan. Dan bukan hanya DJP saja yang telah melakukan percontohan ini, tetapi begitu juga dengan DJBC (sejak 2002) dan DJPb yang telah melakukan percontohan. Dengan reformasi birokrasi yang menyeluruh diharapkan segala kemajuan dan perbaikan yang ada di proyek percontohan itu dapat dirasakan kepada seluruh WP di Indonesia. termasuk juga dengan sistem reward and punishment yang beralku di proyek percontohan juga berlaku di seluruh unit Depkeu se Indonesia.

oke, demikian mengenai reformasi birokrasi. bagaimana dengan dana yang digunakan untuk remunerasi?

remunerasi yang diberikan pada pegawai Kanwil dan KPP Wajib Pajak Besar sejak 2002 adalah dari dana APBN dengan pengalihan Bagian Anggaran lain. Karena selain menguasai Penyusunan Laporan Keuangan Bagian Anggaran (BA) 15, yang memproses Laporan Realisasi Anggaran (LRA) ke Unit Akuntansi Pengguna Anggaran (UAPA), Depkeu juga mempunyai BA lain. Salah satunya, Bagian Anggaran Pembiayaan & Perhitungan, atau yang dikenal sebagai BA-16, kemudian dipecah menjadi beberapa BA, antara lain BA 62, BA 69, BA 71 dan lain-lain. Dari sinilah sebelum Sri Mulyani menjadi Menteri Keuangan, TKPKN dan remunerasi di  Kanwil dan KPP Wajib Pajak Besar sejak 2002 sudah mulai dijalankan.

lalu bagaimana dengan dana remunerasi 2007?

Karena program Kanwil dan KPP Wajib Pajak Besar dinilai berhasil dan telah meningkatkan penerimaan negara dari Kanwil dan KPP Wajib Pajak Besar yang pada 2006 meningkat hingga 3 kali lipat daripada 2002 (Penerimaan kanwil WP besar pada 2003 sebesar 44 T dan meningkat menjadi 75T pada 2006) begitu juga dengan peningkatan penerimaan pajak secara nasional yang mengalami kenaikan dari 210,9 T pada 2002 menjadi 425,1 T pada 2006, maka Depkeu meminta sebagian dana dari peningkatan itu untuk remunerasi seluruh jajaran Depkeu.

Kepada para wakil rakyat di DPR periode 2004-2009, Menkeu Sri Mulyani menjanjikan bahwa semua Dirjennya akan menciptakan budaya kerja yang kompetitif agar perbaikan dapat berlangsung lebih cepat. Sri Mulyani merinci, anggaran gaji baru untuk 62.000 pegawai Depkeu tahun 2007 sebesar Rp 3,496 triliun. Untuk tahun 2007, dalam pos anggaran belanja pegawai dan lain-lain dalam negeri terdapat dana sebesar Rp 1,999 triliun. Dengan demikian, ada kekurangan dana Rp 1,497 triliun untuk memenuhi kebutuhan remunerasi.untuk menutupi kekurangan anggaran itu, Sri Mulyani meminta izin Panitia Anggaran untuk menggunakan dana dari pos anggaran lain. Yakni pos anggaran belanja pegawai transito, yang kemudian dimasukkan ke pos anggaran belanja pegawai lain-lain dalam negeri.

Jadi, program penambahan penghasilan pegawai tidak memerlukan tambahan dana. Depkeu hanya memindahkan dana dari pos anggaran lain ke pos anggaran belanja pegawai.

terus bagaimana dengan peningkatan hutang kepada bank Dunia?

Seperti telah diketahui bahwa Bank Dunia hanya memberikan pinjaman kepada negara apabila negara tersebut mempunyai suatu program yang dinilai telah berhasil. Sebagai contohnya proyek PNPM Mandiri yang dimulai sejak 2007 itu didapatkan dari dana pinjaman dari Bank Dunia karena keberhasilan program reformasi birokrasi di Depkeu (waktu itu, sekarang Kemenkeu) yang sudah mulai berjalan di LTO (large tax office) sejak 2002 tersebut.

Dan karena keberhasilan reformasi birokrasi tersebut Tahun 2008, Bank Dunia kembali menggelontorkan dana PNPM Mandiri USD 400 juta. Utang ini harus dikembalikan pada 2030, seperti yang tercantum dalam Loan Agreement Nomor 7504-ID yang ditandatangani 6 Juni 2008 . World Bank juga mendanai program BOS senilai USD 600 juta, yang harus dibayar hingga 2033.

Jadi, dana remunerasi (dan reformasi birokrasi) Kemenkeu bukanlah berasal hutang kepada Bank Dunia, justru karena keberhasilan reformasi birokrasi di Depkeulah Pemerintah memperoleh pinjaman untuk Program PNPM dan BOS.

salam.

pondokaren, 20 mei 2010

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 20 Mei 2010 in pajak

 

Tag: , , , , ,

Kasus Gayus: Pegawai Pajak Overprotektif (sebuah pembicaraan tentang cinta)

saya masih ingin menulis tentang kasus Gayus saat ini, entah kenapa sebabnya, mungkin memang sekadar ingin saja. dalam berbagai tulisan yang ditulis oleh Pegawa i pajak dalam rangka mengomentari kasus Gayus seringkali dituliskan beberapa hal sebagai berikut:

  1. bahwa pegawai pajak tak seluruhnya seperti Gayus. pegawai pajak tak seluruhnya koruptor.
  2. bahwa jika remunerasi dicabut akan ada kemungkinan bahwa pegawai pajak /atau kondisi DJP secara umum akan seperti DJP pada saat sebelum adanya modernisasi. maksudnya kondisi DJP akan kembali menjadi tidak efektif, tidak melakukan pelayanan prima, dan MUNGKIN akan banyak pegawai DJP yang kembali (bagi yang pernah) dan akan menuju ke arah (bagi yang belum pernah) mencari penghasilan dengan merugikan penerimaan negara.
  3. bahwa adanya grup boikot pajak di facebook akan menimbulkan turunnya penerimaan negara yang berarti pembangunan di Indonesia akan terhenti atau tak maksimal lagi.

dan menurut saya atas beberapa hal di atas, saya menyimpulkan bahwa para penulis yang notabene Pegawai Pajak itu telah overprotektif, terlalu protektif dan terlalu reaktif atas pendapat masyarakat, khususnya jika melihat ini hanya disebabkan seorang Gayus saja. memangnya dia tu seberkuasa apa sih?

beberapa alasan kenapa saya menyebut pegawai pajak overprotektif antara lain:

  1. bahwa pegawai pajak tak seluruhnya seperti Gayus tentu 100% benar, semua orang pasti tahu dan menyadarinya. jika masih ada yang beranggapan demikian maka sudah jelas tidak perlu didengarkan. jika orang Amerika bilang kalo Islam itu teroris apa kita juga percaya, tentu tidak bukan dan setiap orang tentu tahu bahwa tak semua orang Islam itu teroris. hal ini pun bisa dipersamakan dengannya. jadi, jika kita masih merasa perlu mengatakan bahwa tidak semua pegawai pajak adalah koruptor, maka kita akan terdengar overprotektif. paling tidak begitulah menurut saya, karena dalam teori Barat pun dikenal hukum Pareto, bukan? (jika belum ngerti cari di om Wiki) tinggal tentukan mana yang lebih besar, yang koruptor atau yang melawan koruptor!
  2. bahwa jika remunerasi dicabut akan ada kemungkinan bahwa pegawai pajak /atau kondisi DJP secara umum akan seperti DJP pada saat sebelum adanya modernisasi hanyalah sebuah pikiran pesimis saja, dan sepertinya tak ada yang berharap demikian. saya yakin jika pun remunerasi dicabut takkan sampai berakibat demikian. modernisasi di DJP bukanlah soal remunerasi saja, tapi soal banyak hal. dari sebuah tulisan seorang kawan disebutkan bahwa modernisasi dan reformasi birokrasi adalah tentang perbaikan proses bisnis, teknologi informasi, sumber daya manusia, tingkat remunerasi, pengawasan kepatuhan internal,yang semuanya mengarah kepada perubahan paradigma atas institusi Ditjen Pajak. nah, jika memang demikian, maka takperlulah mengancam(maaf, kalo kasar) masyarakat dengan menyatakan bahwa kalo remunerasi dicabut maka DJP akan menjadi seperti sebelum modernisasi. itu tidak mungkin, saya yakin komitmen telah tertanam di hati sebagian besar pegawai DJP yang dengan senang hati menerima proses reformasi birokrasi tersebut. ancaman tadi tentunya akan terdengar sangat overprotektif  jika hanya karena alasan dicabutnya remunerasi. namun, jika memang pengaruh pencabutan remunerasi akan sangat mempengaruhi kemampuan daya hidup, maka solusi seperti yang saya sebutkan di tulisan sebelumnya dapat diterapkan untuk masing-masing pegawai DJP yang merasa kesulitan, atau malah bisa memikirkan solusi lain yang lebih baik. intinya, tak sepantasnyalah kita overprotektif hanya karena remunerasi dicabut, apalagi ini juga belum tentu terjadi.
  3. bahwa adanya grup boikot pajak di facebook akan menimbulkan turunnya penerimaan negara yang berarti pembangunan di Indonesia akan terhenti atau tak maksimal lagi adalah tidak mungkin terjadi. kenapa? karena Indonesia adalah negara hukum. tanpa melihat siapa yang melanggar hukum, maka setiap pelanggar hukum akan ditindak, begitu yang terjadi seharusnya di negara hukum. dan pajak, adalah salah satu instrumen hukum, dimana diatur segala aspeknya berdasarkan konsep hukum, sehingga setiap orang yang melanggar hukum pajak ada konsekuensi hukum yang harus ditanggungnya. dalam hukum pajak juga dikenal bebrapa sanksi hukum terkait pemenuhan kewajiban pajak dari Wajib Pajak, ada denda keterlambatan, ada mekanisme pemeriksaan, penyidikan, penyegelan, penyitaan dan bahwa hingga gijzeling (paksa badan). kita percayakan saya penegakan hukum pajak pada mekanisme tersebut. mungkin dengan adanya grup boikot pajak itu maka pegawai pajak akan harus bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan penerimaan negara. dan memang itulah tugas kita. jadi, tak perlulah kita, pegawai pajak overprotektif dengan mengatasnamakan penerimaan negara dan pembangunan, karena itu memang sudah tugas kita untuk memenuhi penerimaan negara dari pajak. jangan hanya karena kita tidak mau bekerja lebih keras akibat adanya grup boikot pajak tsb, kita melempem dalam memenuhi target penerimaan negara yang telah dibebankan pada kita dan telah kita sepakati itu. tunjukkan integritas kita seperti saat pertama kali kita menerima PNS DJP sebagai titel dan sekaligus tanggungjawab kita.

saya tahu (dan hampir semua orang) bahwa sesungguhnya sikap overprotektif yang dilakukan oleh para pegawai pajak ini terjadi karena dilandasi kecintaan mereka terhadap negeri ini. kecintaan yang diwujudkan dengan berusaha memberi keyakinan bahwa yang apa yang dilakukan adalah dilakukan dengan tulus. bahwa prasangka yang disematkan masyarakat adalah tidak benar. bahwa pegawai pajak itu cinta pada DJP, cinta pada tugas mereka untuk memenuhi penerimaan negara. karena kecintaanlah yang mampu membawa seseoerang melakukan apapun demi yang dicintainya, hingga orang akan menganggap bahwa apa yang dilakukannya adalah over, melebihi dari yang sewajarnya. menunjukkan cinta memang dapat dilakukan dengan berbagai cara. seseorang yang mencintai pasangannya akan rela bersusahpayah bahkan rela mati jika memang itu cara yang harus dilakukannya demi pasangannya.

begitu juga dengan pegawai pajak. saking cintanya dengan tugas dan tanggungjawabnya, banyak yang bersikap berlebih, bahkan overprotektif karena melihat apa yang dilakukan kearah yang lebih baik telah dinilai buruk oleh orang yang hanya bisa melihatnya dari luar. jadi, sikap overprotektif yang dilakukan oleh pegawai pajak seperti saya sebutkan diatas, meski sayapun sedikit memberi alasan tidak perlunya sikap tersbut, secara jelas dapat dibenarkan karena memang dilakukan semata demi cinta. Demi cinta, apakah sikap overprotektif mampu terlihat salah? saya rasa, tidak.

sekian dan itu saja!

nb: ganang penasaran pajak yang dia titipkan sama konsultan pajaknya dibayarkan ke rekening pemerintah apa tidak ya? kok SSPnya meragukan…


 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 25 April 2010 in goblog, pajak

 

Tag: , , , , , , , ,