RSS

Arsip Tag: PNS

GSR750 ABS 2012, sekedar mimpi bagi PNS gendut?

Saya bukan PNS muda berekening gendut yang sering diberitakan akhir-akhir ini. Kalo soal PNS, oke saya PNS. Kalo soal muda, ya kalo 28 mah emang masih muda kan ya?

Trus soal rekening, ya tentu saya punya rekening, wong gaji jelas ditransfer kok. Tapi kalo yang gendut, ya jelas itu adalah perut saya, bukan rekening saya.

mimpi PNS gendut?

Oke, gak usah panjang-panjang yang gak penting. Sebenarnya saya cuma mau bilang kalo saya tuh naksir berta dengan motornya Suzuki, si GSR750, tapi selain emang gak atau belum dijual di mari, toh kalo pun dijual dimari, apalah daya yang saya punya untuk membelinya wong gaji aja sering gak nyisa buat biaya hidup ma ngelunasih utang-utang je…

Jelaslah GSR750 ABS 2012 hanyalah mimpi, so nglirik yang lain deh. Yup, tetep dengan produk Suzuki, kini GW250 telah memikat saya, tapi berbagai kabar yang menyebutkan GW250 bakal di banderol 40jutaan, tentu membuat niat saya kembali ciut. Bagi PNS muda yang gendut seperti saya, duit 40 juta berarti tabungan beberapa tahun, dan rasanya gak ikhlas banget 40 juta hanya untuk sebuah motor, meskipun keinginan ini sudah sangat…

semoga bisa beli, meski tak dalam waktu dekat....

40 juta mah mending beliin mobil-mobil seken, macam Toyota Corolla Twincam tahun-tahun awal, biar bisa ngangkut istri dan anak-anak. Kalo motor mah cuma bisa berdua… Secinta-cintanya saya dengan motor, rasanya saya belum akan beli motor 40jutaan sebelum bisa beli mobil….

Nah, kembali ke GSR750 ABS 2012. mungkin PNS muda berekening gendut bisa beli dengan mudah tu mongtor, tapi bagi PNS muda gendut yang satu ini (saya) rasanya GSR750 ABS 2012 hanyalah mimpi…

mobil tua tapi ternyata masih mahal........

Itu saja!

NB: episode curhat, tapi insyaAllah tetep selalu bersyukur…..

 
15 Komentar

Ditulis oleh pada 13 Januari 2012 in cerita, goblog, motor, otomotif

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , ,

Susahnya menjadi bagian dari Pemerintah

Pada suatu malam ketika sedang bakar-bakar jagung,

” susah gak sih kang jadi PNS itu? ” tanya pak Nasy sambil mengolesi jagung dengan mentega yang sudah dicampur saos

” apa dulu yang ditanyakan, pak? kerjaannya atau gajinya atau bosnya?”

” ya bos ya kerjaannya, kalo gaji mah semua orang juga tahu, wong setiap tahun diumumin gitu lho! ”

” bosnya ya baik aja, kalo kerjaan ya kalo lagi ada kerjaan ya dikerjain, kalo lagi gak ada ya nganggur. Tapi kalo lagi ada kerjaan ya bisa sampai lembur dan nginep juga, dan sayangnya gak ada tu uang lembur dibayarin. emang ada aturannya, uang lembur 6.500 rupiah per jam, emang kecil dan gak pernah dibayarin. Yah, paling mikir sendiri sebagai kompenasailah wong kadang juga gak ada kerjaan.”

” terus, kerjaannya tu apa ndak terasa mengingkari hati nurani, gitu?

maksudnya pak?

ya, gini. kan sering tuh Pemerintah di protes, gak bisa gini, gak bisa gitu. padahal kan sampeyan itu orang pinter, mosok sih gak bisa menyelesaikan masalah gitu?

kalo masalah itu sih, ya ngerasa gitu juga. tapi ya mo gimana. jadi PNS tu harus manut birokrasi je pak. semua masalah tu tergantung atasane. kalo atasan bilang gini ya jalan, kalo bnilang jangan gini yo gak bisa jalan. mo jadi pembaharu? gak punya kedudukan dan gak ada yang ndukung ya ompong, sekedar bisa omong doang.

terus?

Ya kayak masalah macet aja pak. Nyelesaiinnya tu sebenare gampang, banyak banget orang pinter di Kementerian Perhubungan, di Pemprov DKI juga banyak, tapi kalo pimpinannya gak mau nyelesaiin ya gimana coba? Opo arep ngajak gelut bose? malah makan gaji buta nanti pak, wong gak dipecat tapi tetep digaji padahal dah gak dikasih kerjaan je. Keluarga saya kan jadi gak berkah pak. Ya saya sih bisanya ya ngerjain kerjaan yang ada, disuruh ini itu sama bos ya dikerjain asal masih gak ngelanggar ajaran agama.

Oya, emang Pemerintah tu gak punya rencana jangka panjang po? kok rasa-rasanya semua kebijakan cuma reaktif gitu?

O ada pak! Rencananya sih banyak pak, bisa A sampai Z. Wacana sih banyak banget pak, ya ini sih di tempat kerja saya. Review Peraturan ini, peraturan itu, trus yang masalah gini gimana ngaturnya. udah banyak pak.

lha terus kok pada gak jalan?

Yang mana nih maksudnya? ngatasi kemacetan jakarta apa kerjaan saya? Tapi saya rasa sih sama aja, semuanya kembali masalah keinginan bos dan dana. Bos gak mau, walopun saya bikin rancangan aturan gimana pun ya gak bakal disetujui. Apalagi masalah ngatasi kemacetan, kalo dananya gak berlebih ya jelas gak jalan lah.

lha kok nungguin dana berlebih ki gimana maksudnya?

Nah, soal ini saya gak mau suudzon pak. Tapi gini, untuk ngatasi masalah, misalnya kemacetan negri antahberantah dah diputusin beli Busway 1000 unit, masing-masing harganya 1 miliar. Nah untuk ngejalanin rencana ini tu gak cukup dana 1 triliun (1000 x 1 miliar), harus lebih. kenapa? ya untuk sampai pada realisasi beli 1000 unit tu kan gak bisa langsung jreng ngeluarin duit 1 triliun buat beli. Segala sesuatu ada birokrasinya, perlu pembentukan penangungjawab dan bahkan kadang tim yang jelas ada honornya, terus segala koordinasi dengan instansi terkait dan operatornya nanti juga pasti ngeluarin duit, rapat-rapat kan ya lucu kalo gak ada snack atau makan siangnya, terus biaya pemesanan, biaya angkutnya, tetek bengek dana buat pengetesan kualitas apa sesuai dengan pesanan, kalo gak cocok kan ada biaya lagi, biaya pengurusan orang yang harus bolak-balik dari supplier. Yah, pokoknya banyaklah…

gitu ya? gak ngerti saya kang! dimakan sajalah jagungnya, dah mateng semua tuh…

NB: ketika salah seorang teman di kantor gak mau mengambil uang perjalanan dinasnya kok malah diketawain ya sama teman-teman? padahal dia gak mau ngambil karena alasan dia gak ngeluarin uang sebesar itu untuk perjalanan dinasnya, dan toh itu juga sudah dia ikhlaskan demi negara, yang penting bisa bekerja dengan baik, gitu katanya.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 27 November 2011 in cerita, goblog, Umum

 

Tag: , ,

Menjadi PNS benarkah masa depan yang cerah?

Seorang bijak mengatakan bahwa Masa depan yang cerah adalah masa depan yang penuh pilihan. Sampeyan mempunyai masa depan yang cerah jika dalam setiap langkah yang sampeyan tempuh dan jalani banyak pilihan yang dapat diambil, dan tentunya pilihan-pilihan itu adalah pilihan yang baik dan menguntungkan. Pilihan-pilihan ini bukanlah pilihan yang pasti atau statis, akan tetapi pilihan yang fleksibel, dinamis tergantung besarnya usaha yang tidak menghalangi kreatifitas.

Dari pernyataan orang bijak ini(menurut saya tentunya) saya jadi bertanya-tanya apakah masa depan lulusan STAN yang bisa dikatakan hampir pasti menjadi PNS adalah masa depan yang cerah? seperti kita ketahui bahwa ketika masuk (diterima sebagai mahasiswa) STAN, kita harus menandatangani kesediaan untuk diangkat sebagai PNS. dan mungkin begitu juga dengan PTK-PTK yang lain.

Lalu bagaimana dengan anggapan masyarakat bahwa menjadi PNS adalah suatu jaminan bisa bertahan hidup (sederhana?). Hal ini bisa dilihat dari banyaknya masyarakat yang mengikuti ujian dalam rangka penerimaan PNS, dan  banyak yang sampai bersedia membayar sejumlah uang(yang tidak sedikit, menurut ukuran saya) hanya untuk menjadi PNS dan bahkan beberapa diantaranya kena tipu dan yang lainnya tetap tidak mau belajar dari pengalaman si tertipu.

Oke, memang benar bahwa menjadi PNS berarti ada jaminan gaji(selama gak melanggar kode etik dan aturan disiplin) dan jaminan pensiun saat tua nanti, tetapi menjadi PNS berarti juga tidak adanya pilihan pekerjaan. sebagai contoh, kawan saya sebut saja si A lulusan S-1 hanya bekerja sebagai sopir karena memang cuma itu pekerjaan yang ada di bagian dia, atau kawan saya yang lain sebut saja si B yang lulusan s-1 juga tetapi jadi tukang fotokopi karena katanya gak ada yang lain yang lebih tua yang mau mengerjakannya. atau kasus Jack Lord sendiri(yang gak tahu bisa dibrowse di google) yang lulusan S-1 tapi cuma jadi tukang pel. selama tetap memilih jadi PNS, memang itulah kerjaan yang diberikan padanya, ya mau gimana lagi. mau milih yang lain, ya gak bisa karena kepentok birokrasi, apalagi bagi PNS yang punya masalah dengan atasan(bagian kepegawaiannya) ya ngalamat dapet kerjaan gak jelas terus.

Soal penempatan kerja pun, PNS gak bisa milih, apalagi di Kementerian yang gemuk, kayak kementerian keuangan yang unitnya ada hampir di setiap kabupaten di Indonesia, ya harus siap ditempatkan dimana saja. Saya sendiri yang ada di DJP hanya bisa mengajukan permohonan tempat penempatan tanpa ada kepastian (jangankan kepastian, janji aja gak ada), padahal saya ngajuin permohonan kan biar deket keluarga, sesuai alamat rumah dan tempat kerja istri. Yang anaknya sudah gedhe tentu lebih pusing lagi.

Jam kerja PNS juga tetap, gak bisa milih ndiri. dan ini bisa jadi masalah bagi orang-orang yang cuma kerja kalo lagi mood saja, so dia bakalan kelabakan.

Yang gak mau kerja, dibiarkan saja. Yup, sudah jadi rahasia umum bahwa PNS yang rajin akan banyak kerjaan, dan PNS yang malas dapat sedikit kerjaan atau malah nganggur terus. Dan tentunya jika golongan dan masa kerja sama, gajinya juga akan sama aja.

Berdasarkan apa yang saya tulis diatas, dan pernyataan orang bijak tersebut bahwa Masa depan yang cerah adalah masa depan yang penuh pilihan, masihkah PNS dianggap sebagai masa depan yang cerah? Karena menjadi PNS berarti hilangnya berbagai pilihan hidup dan penghasilan. Masihkah PNS menjadi buruan orang-orang tua yang sedang mencari menantu?

Untuk dua pertanyaan diatas saya yakin jawabannya masih, minimal untuk 10 hingga 20 tahun ke depan, dan akan semakin lama jika kondisi bangsa ini tetap seperti sekarang ini tak ada perkembangan pendidikan yang berarti. Soal pendidikan di negeri ini saya masih belum tahu mau dibawa kemana, karena sepertinya belum jelas arahnya….

sekian. itu saja!

pondokaren, 6 juni 2010

nb: ganang gak pingin jadi PNS, “mending jualan kaos oblong saja,” katanya. Ya iyalah, wong lulus SD saja enggak.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Juni 2010 in goblog, pajak, Umum

 

Tag: , , , ,

Pajak di Athena dan Remunerasi di Indonesia

Seperti yang telah diketahui bersama, sejarah pajak berasal dari Mesir, dengan mengenakan pajak atas minyak goreng. terdapat audit yang dilakukan kepada rumah tangga-rumah tangga untuk memastikan dipungutnya pajak minyak goreng tersebut.

Sejak saat itu, pajak juga diikuti oleh negara lain. salah satu yang pertama adalah Yunani, yaitu dengan mengenakan pajak Eisphora untuk digunakan membiayai perang. Eisphora sebenarnya adalah pajak yang dikenakan terhadap penghasilan, yang jumlahnya meningkat saat terjadi perang. Tak ada seorangpun yang tidak dinenai pajak ini. pengembalian pajak (restitusi) diberikan pada saat perang usai, yang dananya dicari fiskus dari sumber tambahan lain. tetapi belum jelas bagaimana perang diakhiri dengan kekalahan Athena, apakah ada restitusi tersebut atau tidak. Selain itu, terdapat juga Pajak Suara atau toll tax setiap bulan yang dikenal dengan nama Metoikion. Pajak ini  dikenakan terhadap Wajib Pajak Luar Negeri yang tinggal di Athena, yaitu mereka yang ibu dan bapaknya bukan orang Athena, besarnya satu Drachma (mata uang mereka) untuk laki-laki dan setengah Drachma untuk wanita. Selain itu, Yunani juga mengenakanpajak-pajak lain seperti pajak rumah, budak, ternak dan hasil pertanian.

dan sekarang, di 2010 ini, Yunani mengalami masalah di bidang perpajakannya. Pemerintah Yunani mengeluarkan kebijakan pemotongan uang belanja pegawai negeri (termasuk pensiunan) serta kenaikan pajak yang dirancang guna mengatasi krisis keuangan negara. Dan ini telah disetujui parlemen. Kenaikan pajak ini mencapai 12%. Pajak yang dinaikkan terutama pada pajak konsumen, misalnya kenaikan pajak atas mobil dari 150 euro hingga 1000 euro untuk mobil mewah per tahunnya. Harga minuman keras dan rokok naik sebesar 20% (penduduk Yunani merupakan perokok berat).

kebijakan tersebut mendapat protes dari berbagai pihak, khususnya dari pada pegawai negeri, termasuk dari para pegawai pajak, dan bahkan hingga ada kantor pajak yang terpaksa harus tutup karena ada demonstrasi menentang kenaikan pajak tersebut. bahkan polisi yang merasa dirugikan dengan kebijakan tersebut malah bergabung dengan para demonstran. akibat demonstrasi yang berubah menjadi kerusuhan tersebut, 3 orang tewas (5/5), dan kantor pajak rusak akibat bom.

selain demonstrasi, serikat pekerja di Athena juga melakukan mogok kerja.  lebih dari satu juta pekerja publik dan swasta diimbau oleh dua kelompok serikat pekerja di Yunani untuk bergabung dalam aksi mogok ini.

Bahkan Serikat Pekerja Yunani meningkatkan aksinya menjadi mogok kerja nasional, termasuk menutup kantor pelayanan publik, sekolah, kantor bea cukai dan kantor pajak serta menghentikan sementara transportasi umum dan lalu lintas penerbangan selama 24 jam. Di kantor kementrian, layanan publik, bank dan sekolah ditutup selama mogok kerja ini, sedangkan rumah sakit beroperasi dengan staf yang amat terbatas.

penerbangan dari dan menuju Yunani mengalami pembatalan pada hari Kamis 11 Maret 2010. Kondisi ini diperparah karena serikat pekerja pengatur lalu lintas bandara  turut serta dalam protes ini. transportasi laut dan kereta api juga terganggu akibat aksi mogok ini. Para pekerja di dua bidang transportasi tersebut juga turut serta dalam aksi mogok di negeri para dewa tersebut.

Krisis di Yunani ini terjadi karena Pemerintahan Yunani yang dipimpin oleh partai sosialis saat ini mendasarkan sistem perekonomiannya pada kapitalisme. Kondisi pengangguran  semakin meningkat,  banyak orang Yunani asli yang hilang pekerjaan akibat krisis. Di pihak lain, semakin banyak pendatang yang masuk ke Yunani untuk mencari pekerjaan sejak diberlakukannya bebas visa bagi penduduk Bulgaria, Rumania dan Polandia yang telah resmi menjadi anggota Uni Eropa. Para pendatang dari negara tersebut  bergabung dengan pendatang Albania, Pakistan, Bangladesh, India yang rata-rata merupakan pendatang illegal.

Sebenarnya krisis ini bisa diatasi dengan melakukan pinjaman dari lembaga internasional, tetapi Pemerintah tidak mau melakukannya, karena pinjaman ini dianggap lebih berisiko daripada melakukan pemotongan belanja dan kenaikan pajak ini.

Kondisi ini memang tidak ada hubungannya dengan Indonesia, dan bahkan dikabarkan nilai tukar mata uang rupiah terhadap Euro meningkat tajam, meskipun peningkatan signifikan tetap terjadi pada dolar AS.

Akan tetapi, dengan melihat keaadaan diatas, mungkinkah akan terjadi kondisi sedemikian rupa jika remunerasi di DJP, atau Kemenkeu dicabut dan mungkin juga pembatalan remunerasi di K/L yang lain? Apakah para PNS Indonesia juga akan melakukan mogok kerja dan bahkan mungkin demonstrasi hingga kerusuhan?

Hmmmm…………

Pondokaren, 15 mei 2010

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 15 Mei 2010 in goblog, pajak

 

Tag: , , , , , ,