RSS

Arsip Tag: rokok

2 manfaat rokok?

Dalam sebuah sesi pengajaran yang saya lakukan dari Senin hingga Jumat kemarin, sang pengajar mengatakan sebuah hal tentang merokok yang sebenarnya sudah sering saya dengar, tapi tetep saja temen2 saya yang juga dengar gak mnghentikan kebiasaannya merokok.

Sang pengajar mengatakan tentang dua hal keuntungan seseorang merokok, yaitu:

1. rumahnya gak bakal kemalingan, kenapa coba? lha wong si perokok batuk-batuk mulu, jadinya malingnya ngira kalo si penghuni rumah belum tidur, so gak berani maling ke rumah itu…

2. awet muda, kalo ini katanya dah berdasarkan riset bahwa perokok itu awet muda alias gak pernah tua, lha wong belum tua dah koit….

Soal kata-kata pengajar itu pun sebenarnya saya setuju apalagi kalo mengingat pengalaman saya ngerokok dulu…

Namun, sekarang sebagai seorang pengumpul uang bagi negara, manfaat merokok juga ada yang lain, yaitu menambah penerimaan negara. Sudah jelas bahwa pajak dan cukai rokok sangat besar dalam menyumbang penerimaan negara.

Nah, tinggal sampeyan semua gimana? mo nambah penerimaan negara dengan merusak paru-paru gak?

Itu saja!

NB: ganang bisa ngerokok 2 bungkus tiap harinya, tapi makannya cuma nasi ma sambel doang….

 
21 Komentar

Ditulis oleh pada 25 Juni 2011 inci pajak, Umum

 

Tag: ,

Dasar rokok sialan!

dia terduduk lemas. nafasnya yang mulai tersengal makin terdengar ngak ngik saja. aku sendiri hanya bisa duduk di depannya tak bisa mengatakan apa apa sedikitpun untuk sekedar hanya menghiburnya.

hidupnya tak lama lagi, begitu dia divonis dokter. hal itu lah yang membuatnya kini terduduk lemas. kaki kakinya seolah tak mampu menahan beban tubuhnya. kaki kakinya selayak pohon rapuh yang akan hancur begitu terkena angin atau hujan yang sedikit lebih kuat dari biasanya.

tangannya yang menggenggam hasil pemeriksaan dokter bergetar. rambutnya awut awutan tak keruan. wajahnya tertunduk lesu, tapi kulihat sorot matanya garang seperti memendam amarah entah kepada siapa, mungkin kepada dirinya sendiri.

” sudah kubilang tak usah kau bawa aku kemari masih juga kau paksa aku kemari! ” katanya padaku sambil tetep suaranya bergetar seolah tanpa sengaja mengucapkannya.

aku sendiri hanya tertunduk, tak mampu menjawabnya. memang benar aku yang membawanya ke dokter malam ini, tapi tak kusangka akan begini jadinya. sudah berhari hari kudengar suara batuknya tak juga berhenti. bebrapa bungkus obat batuk telah ditelannya beberapa saat setelah dia membuang puntung rokok yang dihisapnya setiap setelah makan.

sudah berhari hari ini aku mendengar batuknya. dan akhir akhir ini malah semakin menjadi jadi saja. bahkan katanya dia tak sempat juga untuk tidur. dan dia menghabiskan malam malam panjangnya itu dengan terus menghisap batang batang rokok terakhirnya.

” ini membuatku lupa kalau aku sedang batuk. hanya batang batang rokok ini yang membuatku lupa akan derita hidup. ” begitu katanya jika aku mencoba mengingatkannya untuk tidak merokok lagi.

setiap kata kataku yang berusaha mengingatkannya untuk tidak merokok lagi tak pernah didengarkannya. bahkan tak jarang aku malah dimarahinya. dan aku hanya bisa menerima saja segala kemarahannya itu. di dunia yang membebaskan kemaskulinitas melakukan apa saja, apa pula yang bisa dilakukan oleh seorang wanita miskin istri dari seorang pria miskin ini? bahkan suaranya pun tak mampu dan tak pernah didengar oleh suaminya sendiri.

hanya bayi kami yang sering menjadi tempatku berkeluh kesah. kukatakan apa saja kepadanya, segala kemarahan bapaknya atau segala derita yang kurasa, meski aku tahu dia pun tak menegerti. apa pula yang bisa dimengerti oleh bayi miskin yang lahir dari orang tua yang miskin ini.

tadi sore aku memaksanya untuk pergi ke dokter untuk sekedar mendapatkan obat dari batuknya yang sudah lama tak henti henti ini. tapi di tempat dokter kami disuruh untuk ke rumah sakit karena si dokter tak begitu mengerti tentang penyakit paru paru. dia rasa ada yang salah dengan paru paru suamiku. kupikir semua dokter mengerti tentang semua penyakit, ternyata tidak juga. mungkin karena dokter ini dokter murah jadi cuma penyakit ringan saja yang dia bisa tangani.

maka kami pun terpaksa membawa suamiku ke rumah sakit dengan meminjam sedikit uang dulu kepada para tetangga.

tentu saja kami tetap membawa pula si kecil, karena akan kutitipkan kepada siapa juga. tak ada orang yang bisa sekedar membantu untuk menjagakan si kecil. semua orang sibuk dengan urusan masing masing. jadi kemana mana aku harus menggendong bayi kami

di rumah sakit, kami harus menunggu entah berapa jam, kurasakan cukup lama. apa lagi dengan tetep mendengar suara batuk dari suamiku, makin lama saja kurasa. dan aku masih duduk di ruang tunggu sambail tetep menggendong si kecil yang sesekali menangis entah minta apa. aku hanya bisa menyodorkan putingku untuk sekedar membuat tangisnya berhenti. dan ini sering kali berhasil.

begitu tiba gilirannya untuk diperiksa, aku tak ikut masuk ke ruangan periksa. aku takut. kurasa suamiku cukup lama berada di ruang dokter karena kakiku sendiri mulai kesemutan. kucoba menghilangkannya dengan sesekali berjalan berputar putar di ruang tunggu rumah sakit.

begitu suamiku keluar dari ruang tunggu, kulihat wajahnya kuyu, matanya sembab dan dia mulai terduduk dipojok ruang tunggu rumah sakit ini. dari mulutnya kudengar bahwa dia divonis terkena kanker paru paru, untuk memastikannya suamiku disuruh untuk me-rontgen paru parunya besok pagi. dengan memaksa si dokter suamiku tahu bahwa itu artinya hidupnya tak lama lagi.

yang lebih mengejutkan adalah bahwa kami juga harus memeriksakan si kecil agar diketahui bahwa si kecil tertular atau tidak. melihat bayi kami yang sering ikut ikutan batuk batuk kecil aku jadi khawatir, apalagi akhir akhir ini si kecil memang jadi rewel.

” dasar rokok sialan! ” teriak suamiku sesaat setelah bangun dari duduknya itu. dan itu merupakan kata kata terakhir yang kudengar dari mulaut suamiku sebelum akhirnya dia terjatuh dengan memegangi dadanya.

besok sore aku akan menagajak si kecil anak kami untuk melihat pusara bapaknya dan berdoa agar si kecil sehat sehat saja.

bdg, 18 september 2008
nb: ini repost dari blog saya di intranet! ditulis saat saya masih merokok sembunyi-sembunyi dari istri….

 
24 Komentar

Ditulis oleh pada 6 Juni 2011 inci cerita, Umum

 

Tag: ,