RSS

Harga Piaggio Liberty 100 Karburator belum jelas, kenapa?

06 Jun

gendut euy diliat dari blakang....

Berdasarkan berita yang saya baca di kompas otomotif, Piaggio Indonesia akan mengeluarkan 5 produknya dengan memamerkannya di acara PRJ 2011 yang dimulai besok kamis tanggal 9 Juni 2011. Namun dari kelima produk tersebut, PT Piaggio Indonesia baru menyebutkan harga off the road dari 4 produk.

berikut produk2 tersebut dengan harga off the road dan itung2an saya untuk harga on the roadnya

 

Nah, bisa dilihat tho kalo harganya berkisar antara 12jutaan hingga 24 jutaan. namun, harga Liberty 100 Karburator belum jelas. Lha kenapa?

Berikut analisanya menurut saya, Harga varian ini akan diseuaikan dengan harga kompetitornya dari pabrikan jepang. Yang jelas harganya berada di tengah2 antara harga Zip dan liberty 15O. diperlukan kalkulasi untuk menghitung harga atas selisih 50cc dari liberty 100 dan liberty 100, juga selisih antara penggunaan injeksi dengan yang masih karburator.

zip dan liberty

PT PI mau melihat reaksi konsumen terlebih dahulu dengan merilis harga produk2 lainnya. PT PI masih bingung dimana harga Liberty 100 akan dibenturkan dengan produk pabrikan Jepang. bakal disenggolkan dengan Vario atau naik ke harga di kelas diatasnya. kalo cuma ngandelin nama dbesar aja apa bakal mampu mendulang penjualan besar di varian Liberty 100 ini?

Jika disenggolkan dengan produk kompetitor macam Vario ya harganya di kisaran 15jutaan on the road lho ini), tapi kalo berani di atasnya ya berarti untuk mendulang pejualan yang besar cuma bakal bertumpu pada si Zip aja karena penjualan matic terbesar masih dikisaran harga 11-13juta dan pangsa pasar matic di negeri ini kan gak begitu besar kalo di atas harga 15juta, ya tho?

Nah, lha akhirnya berapa harganya coba? apa bakal dibawah 15juta atau jauh diatasnya?

bagaimana menurut sampeyan?

Itu saja!

NB: belum liat wujudnya Liberty, so belum jelas bakal gimana kiprahnya….

 
16 Komentar

Ditulis oleh pada 6 Juni 2011 in motor

 

Tag: , , , ,

16 responses to “Harga Piaggio Liberty 100 Karburator belum jelas, kenapa?

  1. yuwono

    6 Juni 2011 at 08:04

    Kenapa ya Aprilia, Derbi belum dimasukin PT Piaggio Indonesia, Kan bagus bagus, mak nyus, joss😀

    Desain Grafis Baru Honda XR650L 2012
    http://vespaalitalia.blogspot.com/2011/06/desain-grafis-baru-honda-xr650l-2012.html
    Peluang Honda Faze 250 Terbuka Lebar
    http://vespaalitalia.blogspot.com/2011/05/peluang-honda-faze-250-terbuka-lebar.html

     
  2. matinman

    6 Juni 2011 at 08:11

    setting harga 9.5juta..untuk buka mindset konsumen kalo piaggio mampu untuk dibeli!toh gak bakal rugi..untungny dikit tapi lakunya keraaass!!banyak juga dapetnya…ya tooh
    http://www.niwira.com

     
  3. SKSD

    6 Juni 2011 at 10:56

    walah, kayaknya sales piaggio bingung, mau di bandrol murah ntar prestige nya ilang, dibandrol mahal juga takut susah njualnya.. klo ane mah mending pilih zipnya aja dah, biar tampil beda,,😀

     
    • kangmase

      6 Juni 2011 at 18:27

      lha monggo mawon, september nyampe rumah sampeyan kok!

       
  4. ricthofen

    6 Juni 2011 at 16:19

    modelnya mantap

     
  5. Bonsai Biker

    6 Juni 2011 at 19:50

    betul-betul-betul

     
  6. Arif Rakhman

    6 Juni 2011 at 20:15

    saya rasa gak perlu malu sih jual murah. pan ngambilnya dari vietnam, jadi jangan ngejar untung gede, tapi belajar dari suksesnya ahm mengubah pemikiran khalayak ramai

     
  7. Hourex150L

    6 Juni 2011 at 20:27

    belum nemu harga yang Pantas Paling Mas, secara cc dibawah mio/beat jadi harga gak berani lebih dari harga metik yang sudah akrab dengan konsumen..

     
  8. agungsevi

    7 Juni 2011 at 06:02

    hehehehe… ki motor ko lucu ya modelnya?? tapi secara psikologis matik ya mio atau ya beat!😳
    jadi kemungkinan dengan model seperti itu apakah bisa menarik mata hati konsumen???❓

    nitip mas bro:

    http://agungsevi.wordpress.com/2011/06/06/parade-motor-sport-125cc-yang-sensasional-part-ii/
    http://agungsevi.wordpress.com/2011/06/06/moto-gp-yamaha-indonesia-dengang-target-2014-mungkinkah/

     
  9. broer

    17 Juni 2011 at 07:57

    pantesnya harga 16-18 jt krn yg 150 hrga 22,5 jt, kl di set dbwah 15 jt, zipp pasti ga laku krn mdelnya jelek

     
  10. pisangkaskus

    13 Juni 2012 at 09:37

    liberty paling nyaman dikendarai, diameter roda setara bebek, mantap melibas jalanan gak rata. asalkan seirit suzuki nex dan harga gak beda jauh serta 3S terjamin. Maka akan laris manis liberty 100

     
  11. alex

    4 April 2014 at 18:29

    Surat dari pembeli Piaggio Liberty:
    Menyesal Berat Beli Piaggio
    Siapa tidak tahu merk Vespa atau Piaggio? Hampir dipastikan semua orang Indonesia tahu karena motor pabrikan Italia itu sudah begitu melegenda dan menjadi salah satu the most wanted untuk dikoleksi. Karena itu tidak heran, Vespa atau Piaggo di era tujuh puluhan masih banyak melenggang kangkung, bukan hanya karena desain klasiknya yang lekang oleh jaman, tapi juga mesinnya yang terkenal bandel. Motor yang terlihat ‘rongsokan’ pun masih kuat diinjak, termasuk naik turun pegunungan.
    Brand Vespa dan Piaggio yang kuat dan positioning sebagai klasik nan tangguh itulah membuat saya tanpa pikir panjang memutuskan membeli Piaggio 125 CC dengan harga sekitar Rp16 juta di dealer Vespa-Piaggio di Jl Kebayoran Lama secara cash. Saya tidak mempedulikan meski tidak mendapatkan jaket, walaupun sebenarnya masuk paket dan dijanjikan dealer.
    Saat itu saya hanya membayangkan membeli Piaggio bukan hanya untuk aktivitas kerja sehari-hari, tapi juga agar bisa bergaya retro. Saya juga membayangkan akan bisa menikmati motor ini hingga masa tua dan kemudian kelak mewariskannya kepada anak-anak.
    Tetapi ternyata itu hanya imaginasi saja. Begitu motor dikirim, silih berganti masih langsung terjadi. Awalnya, motor sering tiba-tiba mati, seperti saat di tengah kemacetan atau waktu mengisi bensin. Setelah dicek, ditemukan masalah pada saklar. Dugaan awal, pemasangan saklar kurang rapat. Tapi ternyata masalah tersebut masih terus terjadi. Bayangkan ketika di tengah jalan dan motor mati, saya –termasuk istri saya- harus repot-repot membuka kap depan untuk mengotak-atik saklar.
    Sekitar satu bulan kemudian baru terungkap daya saklar terlalu kecil dan tidak sesuai dengan spek. Hal ini diketahui oleh bengkel resmi setelah diketahui saklar. Terpaksa saya beli saklar baru, dengan menggunakan uang sendiri meski motor masih bergaransi. Masalahnya, bagaimana pabrikan bisa teledor memasang suatu perangkat yang tidak sesuai spek-nya? Saat itu saya berfikir, mungkin ini karena kelalaian teknisi.
    Tak lama kemudian, masalah datang lagi. Motor jalannya goyang. Saya berfikir pasti laker-nya. Setelah dibawa ke bengkel umum, diketahui ternyata as peleg depan sudah aus. Bengkel tidak berani membawa ke bubut karena bahannya dari alumunium sangat sulit dibubut. Saya pun kemudian komplain ke dealer resmi dan diganti karena memang masih bergaransi. Saat itu pihak bengkel mengakui bahan yang lama jelek, dan peleg baru lebih baik.
    Tetapi, belum menikmati kenyamanan, satu masalah lagi datang. En tah kenapa, roda depan menggelembung. Posisinya tepat di tengah, memanjang hingga 20 centi meter. Mulai saat itu lah saya berfikir tentang produk seperti apakah yang dijual. Apa yang saya alami adalah fakta bahwa brand yang begitu kuat ternyata mengelabuhi. Saya merasa positioning Piaggio yang menancap kuat di alam bawah sadar saya hanyalah ilusi. Entah karena dibuat di Vietnam –saya juga berfikir onderdil made in China- jauh dari ekpektasi saya.
    Karena itulah satu memutuskan membeli ban tidak di dealer, meskikpun harus montang-manting karena spek sangat langkah. Saya baru menemukan di pusat onderdil di Kebon Jeruk.Walaupun harganya tinggi, sekitar Rp300 ribu, saya membeli karena lebih murah dibanding di dealer resmi.
    Hingga satu tahun beberapa bulan mempunyai Piaggio, saya tidak pernah merasakan nikmatinya berkendara. Dan yang membuat hati semakin terluka, kini ganti peleg roda belakang yang goyang. Ikhtiar saya beberapa kali membawa ke bubut ternyata tidak berhasil, dan peleg goyang. Bahkan, mur knalpot patah di depan hingga saya harus kembali ke bengkel resmi karena untuk membongkar harus mengganti top packing.
    Terus terang, saya menyesal berat beli Piaggio. Sama sekali tidak ada kekuatan dan kenyamanan motor berkelas Eropa ini. Sama sekali tidak ada bukti Piaggio adalah motor battle proven, seperti para sesepuhnya. Sama sekali tidak muncul customer satisfaciton pada kualitasnya. (*)

     
  12. alex

    4 April 2014 at 18:29

    Jebakan After Sales
    Saya baru menyadari arti pentingya after sales. Orang memilih membeli motor seperti Honda atau Yamaha, karena bengkel ada dimana-mana, bengkel kecil pun sudah biasa, dan onderdil pun ada dimana. Satu lagi harga murah, dan ada KW-nya lagi.
    Common rasionality itu sementara saya singkirkan ketika memutuskan membeli Piaggio. Saya mencoba membeli motor yang lebih menantang: tidak sekedar untuk aktivitas sehari-hari, tapi juga untuk aksi. Apalagi sekelas Piaggio, dengan brand danpositioning yang tidak lagi meragukan. Saya juga percaya dengan kelas yang dibidik serta banyak komunitas penghobi membuat after sales-nya sudah otomatis menjadi perhatian.
    Tapi ternyata, persepsi saya salah kaprah. Selama berurusan dengan persoalan after sales, saya sama sekali tidak pernah menemukan responsivitas, baik dari sisi customer relationship management maupun supplay chain management. Semaunya lelet, menjengkelkan, dan merugikan.
    Dan selama dua tahun lebih saya berurusan dengan silih- ganti masalah onderdil berkualitas rendah yang dibenamkan pada Piaggio milik saya, tidak ada upaya perbaikan sama sekali.Piaggio tidak memikirkan nasib pelanggan. Sebaliknya, hanya berfikir dagangan laku, dan bahkan berfikir bagaimana bisa bisa terus-menerus mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari pelanggan.
    Apa yang saya sampaikan bukan provokasi, tapi dari fakta dan pengalaman yang saya alami. Saklar saya rusak ternyata tidak ada gantinya, terpaksa saya harus beli sendiri; pergantian peleg berkualita rendah harus menunggu sampai 15 hari dengan alasan diimpor dari Vietnam.
    Dan kasus terbaru, untuk menggantikan peleg belakang yang juga hancur dan packing top -yang harus diganti karena mur kenalpot putus di dalam- saya harus menunggu entah sampai kapan karena bengkel resmi tidak bisa memberi kepastian. Yang kian menjengkelkan, walaupun motor sudah sembilan hari di bengkel, sama sekali tidak ada konfirmasi dari pihak bengkel.
    Entah apa susahnya hanya untuk sekedar menelpon dan memberi informasi bahwa motor belum bisa diperbaiki karena onderdil belum ada.Bisa dibayangkan, berapa kerugian material karena motor tidak digunakan untuk aktivitas sehari-hari dalam jangka waktu yang cukup lama.
    Dengan munculnya masalah karena kualitas onderdil yang sangat asal-asalan, saya bahkan merasa adanya jebakan after sales. Bagaimana tidak, untuk mengganti ban dengan spek ukuran yang sangat langka, kita mau tidak mau harus membeli di bengkel resmi dengan harga mahal (informasinya Rp400 ribu). Jika pelg motor rusak, seperti saya alami, kita sudah pasti tidak ada pilihan selain membeli dengan harga Rp900 ribu. Bandingkan dengan layanan dan harga onderil pabrikan besar pada kelas motor sama, seperti Honda Vario.
    Mungkin wajar kalau onderdil yang kita beli benar-benar berkualitas Eropa, dimana Piaggio berasal. Tapi faktanya, onderdil yang dibenamkan di Piaggio low class quality. Bisa dipastikan konsumen akan berkali-kali karena harus berurusan dengan law class service dan harus kembali terjerembab dalam jebakan after sales.
    Dengan pengalaman ini, kiranya masyarakat untuk berfikir seribu kali untuk membeli motor Piaggio. Boro-boro untuk tujuan koleksi, motor ini sama sekali tidak bisa dinikmati. Pengalaman ini saya sampaikan agar masyarakat tidak terjebak menjadi keledai yang jatuh di kubangan persoalan yang sama.(*)

     
  13. alex

    4 April 2014 at 18:30

    Pantas kah Saya Membayar Mahal?
    Jumat hari ini (4 April) sudah lebih dari 3 minggu Piaggio saya berada di bengkel. Tetap saja tidak sekalipun ada informasi dari pihak dealer tentang nasib saya. Saya kembali menengok, hasilnya seperti saya duga, tidak ada perkembangan sama sekali. Pihak bengkel hanya memberi kabar peleg yang rusak tidak bisa diganti karena sudah dibubut. Ujungnya, pasti saya harus mengeluarkan duit sekitar 900 ribu untuk membeli peleg.
    Pertanyaannya, pantas kah saya membayar mahal untuk after sales service yang sedemikian amburadul? Apakah Piaggio tidak berfikir kerugian konsumen ketika motor begitu lama nangkring tanpa kejelasan? Apakah konsumen tidak bnutuh riwa-riwi ngantar anak sekolah, untuk kerja dll? Juga untuk bolak-balik ngencek ke bengkel hanya sekadar menanyakan nasib motornya?
    Pihak Piaggio tidak mau mengganti peleg dengan alasan sudah dibubut? Pertanyaannya, apakah kalau saya membawa motor ke bengkel, apakah bisa dilayani dalam satu dua hari? Kasus sebelumnya hampir tiga minggu? Sekarang kalau pertanyaannya di balik, mengapa piaggio memasang peleg dengan kualitas sangat rendah, dan kemudian menimbulkan konsumennya celaka, apakah piaggio bertanggung jawab?
    Kedatangan saya ke dealer Vespa di Kebayoran Lama kini kian meyakinkan saya bahwa konsumen hanya boleh tersenyum sekali saat baru beli motor.(!)

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: