RSS

Korupsi Pajak, salah siapa?

01 Mei

Belum lama masyarakat Indonesia mendengar dan membaca tentang terbongkarnya kasus mafia perpajakan. Dari keterangan Komjen Susno Duadji yang menyebutkan adanya makelar pajak yang difasilitasi oleh beberapa perwira polri,  Gayus Tambunan, Pegawai Ditjen Pajak Golongan IIIA yang kedapatan menilap 28 miliar dari kasus pajak yang ditanganinya pun ditangkap. Beberapa saat kemudian Bahasjim yang kedapatan memiliki dana milyaran rupiah atas nama anak istrinya. Belakangan mencuat kasus mafia pajak di Surabaya yang membuat nama Suhertanto (Juru Sita Pajak di KPP Rungkut) meroket. Kasus mafia pajak yang melibatkan Suhertanto diperkirakan merugikan uang negara hingga 300 miliar.

Beberapa kasus diatas menjadi sebuah ironi ditengah proses reformasi birokrasi yang sedang dilaksanakan di Kementerian Keuangan. Adanya remunerasi diharpakan akan menyelesaikan permasalahan korupsi di Kemenkeu. Tapi, masyarakat, entah seberapa besar masyarakat disini, menganggap bahwa reformasi birokrasi dan remunerasi yang diberikan telah gagal, benarkah demikian?

Dari hasil searching, saya menemukan beberapa teori tentang alasan orang/individu/anggota masyarakat/seseorang melakukan korupsi.

Teori Homo Economicus

Dalam kacamata ilmu ekonomi, manusia memiliki naluri dasar rakus dan tidak pernah puas dengan hasil yang dicapai. Dalam literatur ekonomi biasa dikenal dengan istilah homo economicus. Adam Smith (1729-1790), dalam salah satu bukunya yang legendaris An Inquiry into The Nature and Causes of The Wealth of The Nations (1976) bahkan mengatakan semua manusia adalah homo economicus (manusia ekonomi). Artinya manusia adalah makhluk yang berusaha terus-menerus memenuhi kebutuhannya, selalu mengejar kemakmuran dan kepentingan untuk dirinya masing-masing. Manusia adalah makhluk ekonomi yang tidak pernah puas dengan apa yang telah diperolehnya.

Di satu sisi manusia tak pernah puas dengan apa yang telah diperolehnya, ia selalu berupaya memperoleh satu kebutuhan dan kebutuhan lainnya, sementara pada sisi yang lain, sayangnya, alat pemuas kebutuhannya juga terbatas atau langka (scarcity). Pada konteks inilah, siklus ekonomi manusia berlangsung demikian dinamis, beradaptasi dengan kenyatan ekonomi yang ada hingga melakukan beragam inovasi di bidang ekonomi demi memuaskan aneka kebutuhannya. Kecenderungan untuk memuaskan hasrat pemenuhan kebutuhan pada satu sisi dan keterbatasan atau kelangkaan (scarcity) alat pemuas kebutuhan di sisi yang lain adalah persoalan mendasar kehidupan ekonomi manusia, sekaligus batasan studi (ilmu) ekonomi.

dari teori ini maka dapat tidak hanya pegawai pajak, tetapi semua orang berpotensi melakukan korupsi, karena setiap orang pasti tidak merasa puas dengan apa yang telah dimilikinya. hanya perbedaan cobaan (dari TUHAN) saja yang membedakan, dan pegawai pajak diberi cobaan berupa kesempatan.
Teori Abraham Maslow
abraham maslow mengemukakan Maslow’s Need Hierarchy Theory, yang terdiri dari : 1. Physical Needs, 2. Security Needs, 3. Social Needs, 4. Esteem needs, 5. Self Actualization Needs
seseorang yang belum berhasil memenuhi physical need nya, maka dirinya akan memiliki motivasi berbeda ketika bekerja. Karyawan yang masih berada pada tingkatan pemenuhan kebutuhan fisik pola motivasinya tentu saja berbeda dengan karyawan yang sudah sampai pada tahap aktualisasi diri. Bagi mereka yang memiliki tingkat kebutuhan aktualisasi diri sangat besar, bekerja telah berubah menjadi sebuah kesenangan dan bekerja bukan lagi dirasakan sebagai sebuah beban. namun sebaliknya, seseorang yang merasa prime needs nya belum terpenuhi dari pekerjaan dia yang sekarang, tentu akan mencari sekuat tenaga cara2 untuk memenuhi prime needsnya tersebut.

dan disini, mungkin yang dilakukan beberapa pegawai pajak diatas adalah karena mereka merasa ada yang kurang dengan pemenuhan prime needs-nya, makanya dia melakukan apa yang seharusnya tidak dia lakukan tersebut. kenapa dia memilih melakukan yang tidak seharusnya tersebut? mungkin akan terkait dengan teori berikutnya….

Teori Vroom
P = f (A x M)

dimana :
P = Performance
A = ability
M = motivation

dan
M = f ( E x V)

dimana :
E = Expectation
V = Valance/Value

disini value dan ekspektasi merupakan faktor yang mempengaruhi motivasi seseorang untuk bertindak. jika Valuenya positif, maka motivasinya tentulah juga positif, dan akan berimbas ke performancenya yang positif, demikian juga sebaliknya jika value nya negatif, maka performance yang muncul tentulah akan negatif.
jika dikaitkan dengan teori maslow, maka kebutuhan prime needs yang belum terpenuhi akan menyebabkan timbulnya motivasi untuk melakukan tindakan yang bisa memenuhi kebutuhan tsb. bagi yang valuenya positif, maka motivasi yang timbul juga positif sehingga performance dia positif, misal dengan mencari kerja sambilan di luar (tentu jika ditunjang ability), atau dengan hidup berhemat. nah bagaimana yang value dirinya negatif?  tentu performance yang keluar negatif seperti apa yang dilakukan orang-orang diatas.

Teori Klitgaard
C = M + D – A

C = Corruption
M = Monopoly of power
D = Discretion by official
A = Accountability
kesempatan untuk korupsi akan besar jika ada monopoli of power pada diri aparat (hubungan superiority-inferiority) dan kewenangan yang luas dari aparat tsb (discretion by official). namun peluang korupsi tsb akan berkurang jika dibatasi dengan kewajiban untuk mempertanggungjawabkan power dan kewenangannya tsb (accountability). jika dihubungkan dengan 2 teori sebelumnya, maka bagi personal yang belum terpenuhi prime needsnya dan memiliki motivasi yang negatif, maka power dan kewenangan yang dia miliki merupakan kesempatan untuk berbuat korupsi apalagi jika tidak ditunjang dengan accountability yang tegas.

Teori Ramirez Torres
Rc > (Pty x P rob)

dimana :
Rc = Reward of Corruption
Pty = penalty if caught
Prob = Probability of being caught
faktor cost-benefit juga merupakan sebuah perhitungan yang pantas dikedepankan untuk menelaah mengapa korupsi begitu merajalela di suatu negara/wilayah. di sebuah wilayah dimana berat hukuman dan kemungkinan tertangkap koruptor lebih ringan/lebih kecil dibandingkan hasil yang diperoleh dari korupsi, maka tingkat korupsi disitu akan cenderung tinggi.

Jadi, dari beberapa teori diatas ( mungkin masih banyak teori yang bisa dipake, tapi males searchingnya), apa yang dapat disimpulkan? bagaimana dengan pertanyaan pada judul tulisan ini? apakah pertanyaan “korupsi pajak, salah siapa?” telah terjawab? jika belum mungkin Anda bisa menjawabnya….

sekian. itu saja!

sumber: dari tulisan entah siapa dan siapa lagi…. bagi penulis tulisan ntu, saya mohon maaf tidak minta ijin karena saya tidak punya akun di kedua tempat/forum/web/apalah itu….

nb: ganang nanya kenapa kok kopi paste, ya saya jawab aja lagi males nulis ndiri, wong tugas masih banyak belum dikerjain je….

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 1 Mei 2010 in pajak, Umum

 

Tag: , , , , , ,

2 responses to “Korupsi Pajak, salah siapa?

  1. Fakfoong

    21 Maret 2011 at 10:37

    Seribu alasan buat pembenaran korupsi????…

    Ini lebih ke mental invidu bro, bukan yg lain..!!!

     
    • kangmase

      21 Maret 2011 at 20:29

      lingkungan juga mempengaruhi kayaknya

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: