RSS

Dampak Kasus Gayus terhadap Saya (2)

23 Apr

oke. setelah kemarin kita membahas dampak kasus Gayus terhadap saya yang bersifat pasti, maka sekarang saya akan menuliskan dampak yang tidak pasti terhadap saya. dampak tidak pasti disini adalah dampak yang akan terjadi jika isu-isu yang muncul akibat adanya kasus Gayus tersebut terjadi. dampak yang akan saya tuliskan hanya masalah penghasilan saja, karena isu yang berkembang memang mengakibatkan kerawanan mengingat hal ini menyangkut harkat hidup saya, termasuk keberlangsungan rumah kreditan saya.

1. jika remunerasi dihapuskan/dibatalkan/ditarik

seperti kita ketahui, sejak ada kasus Gayus itu, berhembuslah isu atau usulan entah dari siapa mungkin dari anggota DPR yang merasa terhormat itu untuk menarik/menghapuskan/membatalkan remunerasi di DJP, bahkan di Kementerian Keuangan. dan jika kedepannya memang terjadi demikian, maka dampaknya terhadap saya akan sangat tergantung remunerasi DJP atau Kemenkeu yang dicabut.

a. jika remunerasi DJP saja yang dicabut, dalam artian take home pegawai DJP menjadi sama dengan pegawai dilingkungan eselon I Kemenkeu yang lain, maka dampaknya bagi saya takkan terlalu banyak, karena toh kondisi saya saat ini tidak beda dengan kondisi tersebut.

b. jika remunerasi Kemenkeu secara keseluruhan dicabut, dalam artian take home pay kembali seperti sebelum ada reformasi birokrasi, maka dampaknya

1). saya takkan bilang kalau pegawai DJP termasuk saya akan kembali atau malah menuju ke jaman jahiliyah dimana korupsi bukanlah permainan 1-2 orang, tetapi hampir seluruh orang.

2). saya juga tidak akan mencerca siapapun yang mencabut remunerasi tersebut.

3). saya mempertimbangkan untuk kembali menjual rumah kreditan saya, karena tentu dengan gaji itu, saya dan istri takkan mampu membayarnya jika tetap bekerja di Kemenkeu.

4). saya memikirkan alternatif tidak menjual rumah kreditan saya, tetapi akan berusaha mencari tambahan penghasilan lain dengan entah bagaimana. akan tetapi melihat sifat saya dan istri sepertinya ini kemungkinannya kecil. kemungkinan terbesar yang akan saya lakukan adalah pindah instansi dimana penghasilan tidak akan mengalami penurunan yang drastis, misalnya ke Pemda Jakarta, mumpung akan ada pengalihan PBB ke Pemda, jadi bisa dijadikan alasan untuk bantuin Pemda Jakarta.

5). pindah ke Pemda kampung halaman saya atau istri, menjual rumah kreditan dan kembali kredit di sana.

2. jika DJP dibubarkan dan menjadi Badan Penerimaan Negara yang bersifat independen layaknya KPK atau BI, maka dampaknya saya akan sangat bersyukur, karena….saya takkan bicara efektivitas dan efisiensi badan independen tersebut yang tentunya akan lebih baik….tapi saya hanya akan bicara bahwa atas usulan ini pun(sebenarnya dah pernah dibahas entah berapa tahun lalu dimana hasilnya Menkeu gak mau melepas DJP) masih ada 2 kemungkinan berdasarkan usulan anggota DPR Saudara BS, yaitu

a. pegawai Badan independen tersebut tetap PNS, maka sepertinya tidak akan menjadi independen lagi, sehingga kemungkinan ini sepertinya tidak mungkin, jadi memang cuma ada satu kemungkinan yaitu

b. pegawai Badan tersebut bukan PNS, dan ini berarti ada tiga kemungkinan

1). semua pegawai DJP menjadi pegawai badan independen tersebut, maka dampaknya bakal ada pengaturan gaji tersendiri, dan melihat apa yang terjadi pada KPK dan BI maka saya yakin gaji malah akan lebih tinggi. dan untuk ini saya bersyukur. jika pun tidak llebih tinggi, saya yakin tidak akan lebih rendah. jikapun terpaksa lebih rendah ya kita liat saja….belum saya pikirkan!

2). diadakan penerimaan pegawai baru, dimana tentunya saya akan mendaftar, dan jika saya lolos maka dengan pengandaian gaji seperti nomer 1) saya akan bersyukur. jika saya tidak lolos dan di Kemenkeu remunerasinya dicabut maka alternatif jika remunerasi Kemenkeu secara keseluruhan dicabut seperti diatas akan saya pilih salah satu, tetapi jika di Kemenkeu remunerasi tidak dicabut, maka saya harus pindah instansi dan tentunya saya akan memilih instansi yang hanya ada di jakarta (misalnya Setjen atau BKF)

3). pegawai DJP sebagian dipakai, sebagian ditinggal, maka saya berharap saya akan ikut dipakai di badan independen tersebut dan dengan pengandaian uyang sama saya akan bersyukur. dan jika saya termasuk yang ditinggal maka alternatif diatas (no. 2)) akan saya terapkan.

3. isu adanya potensi pajak sebesar 1800 T membuat saya pengen muntah meliat orang-orang aneh berotak busuk yang mengatakannya, dan kalaupun itu benar dan DJP harus bisa mendapatkan pajak sebesar itu, maka saya akan minta kenaikan gaji. karena dengan kenaikan penerimaan pajak 3 kali lipat masa pegawainya digaji tetap sih?

sebenarnya untuk isu pencabutan remunerasi masih ada dampak secara makroekonomi, tetapi karena yang sya sebutkan diatas adalah dampak terhadap saya, maka dampak makroekonomi ini saya pisahkan saja. saya tidak akan membicarakan kemungkinannya para pegawai DJP/Kemenkeu mengkorupsi penerimaan negara, tetapi saya hanya akan membicarakan dampak yang tidak ditimbulkan adanya korupsi saja.

  • dengan ditariknya remunerasi berati banyak pegawai DJP dan Kemenkeu yang akan menggagalkan kredit/pinjamannya ke bank. dan jika menggunakan hukum pareto saja dimana 20% pegawai DJP/Kemenkeu sekarang memiliki kredit di bank, maka akan banyak kredit macet(sekitar 6000), dan tentunya akan mengganggu kinerja perbankan secara nasional.
  • akan banyak pegawai pajak/Kemenkeu yang tidak mampu lagi membeli barang-barang, yang berarti mengurangi daya beli masyarakat, maka penerimaan PPN juga akan turun, yang akan mengakibatkan penerimaan di APBN juga akan lebih rendah.
  • akan banyak pegawai DJP/Kemenkeu yang akan pindah instansi atau malah menjadi wiraswasta karena adanya tekanan ekonomi yang sulit diatasi.
  • dan mungkin masih ada dampak lain lagi yang belum sempat saya pikirkan.

sekian. terimakasih dan itu saja!

pondok aren, 23 april 2010

nb: ganang sih gak ngerasain dampak apa-apa wong sekarang aja lagi ngorok di bawah pohon mangga. lagian jualan kaos parpolnya laris manis.

 
14 Komentar

Ditulis oleh pada 23 April 2010 in goblog, pajak

 

Tag: , , , , ,

14 responses to “Dampak Kasus Gayus terhadap Saya (2)

  1. bundamahes

    23 April 2010 at 15:02

    bagus, tapi pusing karena kebanyak sub-sub poinnya😛

     
    • kangmase

      23 April 2010 at 18:50

      lha bisanya gitu je! gmn lagi

       
  2. anang.blora

    23 April 2010 at 17:09

    alternatif lain yang perlu diusulkan adalah pengajuan rescheduling atas kredit property anda (mungkin dengan menjaminkan kapal tangker pinjaman dari seorang kawan)

     
  3. zizaw

    23 April 2010 at 18:01

    dadi proposal penelitian iki? “_”

     
    • kangmase

      23 April 2010 at 18:49

      ya gak tho pak!

       
  4. Semendo

    24 April 2010 at 09:42

    Sistimatis banget tulisannya, kayaknya memang bisa jadi proposal penelitian🙂

     
  5. omiyan

    26 April 2010 at 09:03

    kalau ane sih sepedanpat aja …. yang jadi bikin kesel adalah pernyataan orang-orang yang bukannya nyari solusi tapi membuat masalah baru terutama Rizal ramli … hmmmmm

    saya setuju jika Pajak dijadiin Badan tersendiri

     
    • kangmase

      26 April 2010 at 09:49

      sip dah om!

       
  6. kirana

    28 April 2010 at 18:47

    secara hak saya setuju.. tapi ada baiknya jangan menjabarkan hak2 anda dulu….
    saya juga pegawai pajak… tapi alangkah baiknya.. ditambahi dengan kewajiban2 kita …
    misalnya gini..

    saya menjadi pegawai pajak.. maka :
    1. saya akan sangat loyal pada instansi saya.
    2. saya akan menjaga integritas , antara pikiran, ucapan dan perbuatan selalu selaras
    3. saya akan mematuhi kode etik yang berlaku didalam kode etik DJP
    4. saya akan menegur rekan kerja yang sekiranya mulai melenceng dari kode etik DJP
    5. saya akan menjadi pionir dan menjadi contoh teladan yang baik buat pegawai DJP khususnya, dan PNS umumnya..
    6. saya akan membuat opini publik bahwa pegawai pajak terkenal karena Integritasnya bukan karena korupsinya…

    baru setelah kewajiban2 itu bisa dilakukan.. saya akan merasa sangat puas terhadap remunerasi apa yang diberikan negara buat kita..

    pesan pribadi dari saya : jika kita tidak bisa mengajak pegawai DJP lain seperti hal2 yang saya sebutkan… setidaknya marilah mulai membiasakan dari diri kita sendiri, berbuat baik memang tidak gampang.. tapi tidak mustahil untuk tidak dilakukan… semangat para pegawai DJP.. tetap jaga iman kita.. ! 🙂

     
    • kangmase

      28 April 2010 at 18:56

      kalo nulis yang sampeyan tulis berarti judulnya bukan dampak dong mbak…. mungkin mengenai yang sampeyan tulis bakal saya tulis di tulisan lain, atau mungkin cukup dengan sampeyan yang menuliskannya, ya tho?

      lagian di tulisan ini saya gak menjabarkan hak2 saya kok, saya cuma menuliskan dampak kasus gayus terhadap saya, khususnya mengenai remunerasi, lagipula memang hal ini yang kepikiran sama saya saat ini karena saya juga sedang da tugas belajar je….

      oya, gitu saja deh!

       
  7. bumikitta

    4 Mei 2010 at 17:12

    isu adanya potensi pajak sebesar 1800 T membuat saya pengen muntah meliat orang-orang aneh berotak busuk yang mengatakannya

    lah, memang manusia yang ber-NPWP masih sekitar belasan juta [atau paling tidak sampai 30%]. berarti lahannya masih banyakkan?

    ancam pemerintah kalau remunerasi dicabut, pegawai kemenkeu akan kembali ke jaman jahiliyah. itulah dampak yang akan terlihat dalam waktu singkat, segera setelah pencabutan remunerasi. apa lagi generasi tua yang sudah mengalami jaman indah itu.:mrgreen:

     
  8. Fakfoong

    21 Maret 2011 at 10:46

    Ironis…
    Sekolah ditanggung negara, rumenarasi dapet gede….eee….masih juga korupsi..
    Dimana nurani sebagai ”anak manusia” yg dibekali agama!!!!

     
    • kangmase

      21 Maret 2011 at 20:29

      tanyaken langsung sama orangnya ya, saya ndak tahu…

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: